Review Lolita-ku akhirnya dimuat di Ruang Baca Koran Tempo ed. Juni 2008. Nah ! Sekedar informasi bagi yang membutuhkan, berikut hal-hal yang akan kubagikan pada teman-teman yang suka menulis resensi ke media-media cetak. Kerap data-data ini sering ditanyakan oleh beberapa kawan resensor melalui email. Karena resensi terakhirku dimuat di Koran Tempo, maka saya akan memberikan data-data yang berkaitan dengan resensi tersebut. Resensi Lolita dikirim ke Koran Tempo : 24 Juni 2008 melalui email : koran@tempo.co.id Dimuat di Ruang Baca Koran Tempo ed Juni 2008 : 29 Juni 2008 Perihal cepat atau lambatnya resensi kita dimuat tentunya tergantung dari redaksinya. Umumnya mereka tidak memberitahu pada kita apakah resensi yang kita kirim akan dimuat atau tidak. Karenanya rajin-rajinlah memantau koran/majalah yang kita kirimi resensi. Jumlah Karakter Word Count resensi Lolita (sebelum diedit oleh redaksi Koran Tempo) Pages…………………………. 3 Words …………………….1.073 Characters (no space)…… .6.652 Characters (with space)……7.721 Pharagraps…………………….17 Lines…………………………113 Jangan lupa mengirim scan cover buku yang diresensi dan di akhir tulisan sertakan no rekening, alamat email, no telpon yang bisa dihubungi Karena tiap media memiliki ketentuan dalam jumlah kalimat pada kolom resensinya, maka rajin-rajinlah mengamati resensi-resensi di berbagai media cetak, dan sesuaikan panjang pendeknya resensi dengan media cetak yang akan kita kirimi. Berapa honornya ? Ruang Baca-Koran Tempo : 450-500 rb Kompas : Rp. 500 rb Media Indonesia : Rp. 450 rb Koran Jakarta : 400 rb Sinar Harapan 300 rb Pikiran Rakyat (Kampus) : Rp. 225 rb Koran Sindo : Rp. 250 rb Kapan kita menerima honornya? Sabarlah menunggu. Rajin-rajinlah memeriksa rekening kita, karena tidak semua media memberitahukan pada kita kalau mereka telah mentransfer honor tulisan ke rek. kita Rata-rata honor paling cepat diterima 2 minggu setelah tanggal pemuatan. Bagaimana jika honor belum juga kita terima? Pernah resensi saya belum dikirimi honor selama lebih dari satu bulan. Jika demikian jangan segan-segan untuk menelpon ke bagian keuangan koran ybs. No telepon koran/majalah biasanya terdapat di kolom susuan redaksi, jika bingung kebagian mana kita harus menanyakan masalah honor, bilang saja ke operator teleponnya kalau kita ingin menanyakan honor tulisan. Setelah tersambung dengan bagian yang menangani masalah honor, biasanya kita akan ditanyakan tanggal muat tulisan kita, karenanya catat terlebih dahulu tanggal muat dan judul resensi kita. Siapkan juga no.rekening bank kita kalau sewaktu-waktu kita diminta untuk mendiktekannya saat itu juga. Demikian…..semoga informasi ini bermanfaat bagi teman-teman yang berniat mengirim resensinya ke media cetak. @h_tanzil
 Tiba-tiba saja majalah MATABACA ed Juni 2008 memasukkan namaku sebagai kolektor buku tua. Dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Anak Muda Penggila Buku Tua”, disebutkan : “Bandung memang terkenal dengan para penjual dan kolektor buku tua. Misalnya, Sudarsono Katam, Yohanes, H.Tanzil, M.Sasmita, dan Rahmat Taufik Hidayat. Ditambah keberadaan Iit Sukmiati, Arahman Ali, dan Gilar. Membuat Bandung lebih semarak sebagai surga buku tua. Rata-rata usia mereka di bawah 30 tahun. “(hal 12) Wah, aku disejajarkan dengan Sudarsono Katam, Yohanes, M Sasmita, dll…wow! Kalau dibanding dengan nama diatas aku mungkin hanya seujung kukunya saja karena aku sendiri merasa bukan seorang koletor buku tua, terlalu berlebihan sebutan itu bagiku. Aku memang senang mengoleksi berbagai jenis buku, termasuk buku tua dan antik, untuk buku-buku tua ya tak terlalu serius dan sekonsisten para kolektor buku tua sesungguhnya. Aku tak punya waktu khusus untuk mencari buku-buku tua, hanya kalau kebetulan kalau lewat ke Palasari atau Dewi Sartika, atau Pasar Suci barulah aku mencari buku tua yang cocok dengan seleraku. Hingga saat ini tak banyak buku tua/antik yang kukoleksi, mungkin hanya puluhan buku saja mulai dari buku sejarah, biografi, sastra, hingga bible tua. (Bandingkan dengan Sudarsono Katam atau Rahmat Taufik H yg koleksinya ribuan) Saat ini buku yang paling tua adalah sebuah Kitab Perjanjian baru mungil dalam bahasa latin yang terbit pada tahun 1875. Uniknya di dalam kitab tersebut ada beberapa daun-daun kering yang diselipkan di antara halaman-halamannya, mungkinkah daun-daun kering itu berasal juga dari abad ke 19 ? Kembali ke soal pencantuman namaku sebagai kolektor buku tua oleh Matabaca, entah apa dasar Matabaca untuk menyebutku sebagai seorang kolektor buku tua? Mungkin si kontributor Matabaca pernah mendengar atau secara tidak sengaja melihat sendiri kalau aku memang memiliki beberapa koleksi buku tua. Yang pasti aku tak pernah merasa diwawancarai oleh Matabaca soal buku tua. Kalaupun aku diwawancarai, aku akan menolak disebut sebagai kolektor buku tua karena sejujurnya aku tak terlalu serius dalam mengoleksi buku tua. Aku lebih senang disebut sebagai pecinta buku…itu saja. @h_tanzil Ket foto : Koleksi buku tuaku yg sedang dianging-angin
Menjadi pembicara? Ah yang bener aja? Begitulah pertanyaan yg muncul dibenakku ketika mendapat tawaran dari teman-teman Kubugil untuk mengisi acara Temu Bloger Buku Indonesia yang digagas oleh Gus Pengasap (Muhidin M Dahlan). Langsung saja aku menolaknya, tapi ketika dijelaskan kalau format acaranya adalah Talk Show, ya aku nekad saja menyanggupinya, apalagi yang menjadi moderatornya adalah Lao En (Endah Sulwesi) yang jelas-jelas sudah kukenal selama ini. Setelah dengan cepat mempersiapkan segala sesuatunya, akhirnya hari H itupun tiba. Tgl 17 Mei 2008, aku berangkat dari Kopo-Bandung pukul 07.00 wib dengan travel Cipaganti. Setelah registrasi ulang di pool BTC pasteur akhirnya hanya dengan penumpang 3 orang termasuk aku, meluncurlah mobil Pregio yang kutumpangi ke Jakarta dengan tujuan ITC Cempaka Mas. Untuk mengusir rasa jenuh di jalan lurus yang tak berujung, aku membaca buku “Menyusuri Lorongh-Lorong Dunia 2 – Sigit Susanto. Menarik karena kisah perjalanan Kang Sigit ditulis dengan kalimat-kalimat yang enak dibaca hingga cocok sekali sebagai teman perjalanan dalam travel menuju Jakarta. Pukul 10.00 an akupun tiba di ITC Cempaka Mas, sempat tergoda untuk naik taksi atau ojek untuk menuju lokasi acara, namun aku pikir aku harus punya pengalaman baru, jadi kuputuskan untuk naik busway saja seperti yang diusulkan oleh Papah Q. Setelah mendaki jembatan penyebrangan di depan ITC Cempaka Mas akupun masuk ke halte Cempaka. Agak kikuk juga karena ini pengalaman pertamaku naik busway. Bermodal peta jalur bussway yang diberikan papah Q kepadaku, akupun berdiri menggelantung sepanjang jalan sambil memperhatikan teriakan kenek busway setiap akan ebrhenti di sebuah halte. Sengaja aku berdiri dekat kenek-nya biar bisa mendengar dengan jelas teriakannya dan tahu kapan aku harus turun. Akhirnya sampai juga di Halte Juanda, berkat petunjuk yang diberikan papah Q padaku tak terlalu sulit mencari jalan Veteran. Akupun berjalan sepanjang jalan Veteran, melewati Hotel Sriwijaya, Rumah Makan Babah, Es krim Ragusa, Gudeg Bu Tjitro dan akhirnya café Matahari Domus tempat acara berlangsung. Wajah pertama yang kulihat adalah wajah papah Q yang berdiri di mulut café, ternyata didalamnya para kubugilers sedang mejeng menunggu para peserta untuk melakukan registrasi. Kontan saja aku disambut dengan teriakan dan riuhan, belum lagi berbagai fotografer amatir dan profesional secara spontan memfoto diriku bak artis film terkenal….hehehe Segera saja aku bertemu dengan para kubugilers yang selama ini hanya kukenal lewat nyanyahannya di klinik, ada ferina, sitorus, iqbal, miss g, ida, dll. Senang sekali bisa melihat wajah dan perilaku mereka di dunia nyata, dan ternyata semua lucu-lucu dan menggemaskan…:D Singkat cerita akhirnya dimulailah acara intinya. Tentu saja aku nervous bukan kepalang, Walau sebelumnya aku pernah naik panggung di acara sebuah launching buku dimana aku juga menjadi salah satu narasmuber, tetap saja nervous itu menguasai diriku. Bayangkan aku duduk disofa dengan dipandang ratusan mata…wah..sofa itu serasa panas dan tak betah aku duduki. Belum lagi aku mendapat giliran pertama menjawab pertanyaan dari moderator Lao En…. Untunglah semua itu akhirnya bisa kulewati, dengan agak tergagap aku menjawab semua pertanyaan yang diberikan moderator padaku. Beberapa kawan melihat aku nervous dengan menggosok-gosokkan tanganku ke paha…hahahaha…itulah kebiasaan burukku yang sulit aku lepaskan ketika aku nervous..:D Di tengah diskusi sempat kulihat raut wajah2 bosan dari para peserta, untunglah sesi Taufik Rahzen memunculkan hal-hal menarik dari yang dia ceritakan, Hetih dari GPU juga tampak lancar menjawab setiap pertanyaan, mungkin di panggung itu hanya aku yang paling terlihat grogi…hehehe. Untuk mengusir kejenuhan acara, MC yang dibawakan oleh miss G dengan piawai menghidupkan suasana lewat acara2 selingan berupa quiz, dll. Sekitar satu jam setengah lebih aku duduk di panggung dengan disorot sinar lampu, menegangkan dan melelahkan juga. Untunglah para peserta tampak antusias mengikuti hingga akhir, lambat laun hilang sudah lelah dan tegangku hingga akhirnya lenyap ketika akhirnya acara ditutup oleh sang moderator yang trampil bertanya ini itu ke tiap pembicara. Setelah sesi pembagian kenang-kenangan dan foto2 dengan para pembicara dan moderator akhirnya akupun turun dari pangung. Keinginan untuk segera menyantap kudapan yang tersedia di meja pembicara tak kesampaian karena beberapa orang langsung menghampiriku. Ada dua orang jurnalis dari Bussines Week dan Raiders Digest Indonesia (RDI) mewawancaraiku secara singkat. RDI meminta kesediaanku untuk menjadi pembicara seputar buku bulan juni nanti…gubrakkkkk!!!!!!! Dengan diplomatis akupun menyatakan “Saya lihat jadwal saya dulu ya..” sembari mnyodorkan kartu namaku padanya :D Ketika sesi wawancara dengan beberapa wartawan selesai aku langsung teringat dengan kudapan yang belum kusentuh di meja pembicara, begitu aku akan menyambarnya….”Ya ampunnnnn…..kudapanku sudah diserbu oleh beberapa peserta, aku tak ingat siapa yang menyambarnya..salah satu yang kuingat mungkin Irfan si fotografer itu…..(maaf kalau aku keliru ya Fan…hahahahaha). Dengan perut lapar, aku segera meninggalkan panggung utama, baru saja melangkah beberapa langkah beberapa orang memintaku untuk berfoto bersama…wah..wah…koq kayaq artis saja ya….hihihihihi. Setelah itu secara bergantian aku menemui beberapa teman yang selama ini hanya berinteraksi denganku di cyber, antara lain aku bertemu dengan Max yang datang jauh-jauh dari padang untuk acara ini (harusnya dapat buntelan istimewa nih), lalu ada Yayat R Cipasang yang tulisan2 tentang sastranya selalu kubaca di koran2 nasional, ada Nur Mursidi si resensor rajin yang resensinya sering muncul di media-media cetak, ada Tyas Legawa dari inibuku.com, ada Darwin Tjoe si pemiliki bookepedia.com, dll Dan yang paling mennyenangkan adalah pertemuan dengan para sahabat kubugil yang heboh-heboh seperti ibutio, enny, echy, indah juli, dll (maaf yang namanya tidak kusebutkan) pokoknya seru banget bertemu dengan para sahabat2 kubugil ini. Hari semakin siang, perut semakin lapar, untunglah Gus Pengasap segera mengajak kami untuk makan siang di gudeg bu tjitro, kamipun makan dalam suasana yang riuh dan riang gembira. Setelah makan kami kembali ke lokasi acara, foto-foto, ngobrol-ngobrol sambil menyantap cup cakes dan brownies kukus kiriman ibutio dan diakhiri dengan menyantap es krim Ragusa yang legendaris itu. Setelah perut kenyang dan puas berhaha-hihi dengan para kubugil and friends, akupun memutuskan untuk pulang pada pukul 17.00 wib karena travel menuju Bandung brangkat pada pukul 17.30. Akhirnya dengan dibekali berbagai buntelan dan gudeg kendil bu tjitro pemberian gus pengasap akupun melenggang pulang…. Dalam travel menuju bandung hatiku lega karena menurutku acara yang diselenggarakan oleh kubugil dan panitia festival Mei ini berlangsung dengan lancar dan sukses. Tentunya banyak kekurangannya, tapi dari kekurangan itulah kami dapat belajar agar di even2 yang deselenggarakan kubugil selanjutnya kami bisa lebih baik lagi… Demikian sekedar berbagi kisah….. Sumber foto : http://sijore.multiply.com/photos/album/60/KuBuGil_Takshow @h_tanzil
Kepada PARA SAHABAT PECINTA DAN PERESENSI BUKU se- N.U.S.A.N.T.A.R.A. Salam buku! Weblog atau blog adalah sebuah tren termutakhir dari sebuah abad yang berlari yang dijinjing internet. Istilah ini mulai diperkenalkan sejak 1997 yang merujuk pada kumpulan website pribadi yang diperbarui terus-menerus, berisi link ke website lain dan disertai komentar. Di dalamnya para pembuat blog atau blogger menampilkan foto dan tulisan mengenai berbagai topik. Blog adalah juga website. Jika website hanya sekumpulan arsip dan data, maka blog adalah fenomena termutakhir dari web. Blog buku merupakan bagian dari generasi blog yang ingin merayakan sebuah buana yang bisa dilihat secara bebas dan personal. Mereka adalah generasi peresensi baru buku dengan menggunakan medium yang lebih egaliter. Jika generasi peresensi lama masih memperebutkan halaman-halaman koran nasional dan daerah dengan mempertimbangkan selera redaktur buku, maka generasi baru ini membaca buku dan menuliskannya kembali dengan semangat sangat personal tanpa jerih tulisannya ditampik. Terkait dengan itu, maka Persekutuan Kutu Buku Gila (Ku-Bu-Gil— http://kubugil.multiply.com) bekerja sama dengan Indonesia Buku dan penyelenggara “Festival Mei Veteran” menggelar perhelatan Temu Blogger Buku se-Indonesia dengan tajuk: “Menjadi Kutubuku Itu Keren”. Acara tersebut digelar pada: Hari/Tanggal : Sabtu, 17 Mei 2008 Pukul : 11 – 14 WIB Tempat : Mata Hari Domus Bataviasche Nouvelles Café Jl Veteran I / 30-33 Jakarta Pusat, telp 021-3840127, e-mail: indonesiabuku@gmail.com (sebelah barat Masjid Istiqlal atau utara Monas atau bersebalahan dengan Markas Besar AD) Pembicara : Taufik Rahzen (budayawan dan kolektor buku) Hetih Rusli (editor Gramedia Pustaka Utama) H Tanzil (moderator milis resensibuku dan pasarbuku) Kami mengundang Anda sekalian hadir dalam perhelatan itu. Acara ini terbuka untuk publik yang mencintai buku sepenuh-penuh hikmat dan para blogger buku. Dan tentu saja GRATIS. Demikian undangan ini, terimakasih atas perhatiannya. Salam buku! Jakarta, 10 Mei 2008 PANITIA PELAKSANA Hernadi Tanzil ( http://bukuygkubaca.blogspot.com), Endah Sulwesi ( http://perca.blogdrive.com), M Baihaqi ( http://qyu.blogspot.com), Muhidin M Dahlan ( http://akubuku.blogspot.com), Ferina Permatasari ( http://lemari-buku-ku.blogspot.com), Indah Nurchaidah, Berliani M Nugrahani, Maria Masniari Lubis, Jody Pojoh ( http://jodypojoh.blogdrive.com), Dumaria Pohan ( http://mon-secret-jardin.blogspot.com), Herlina Sitorus, Yulianto, Alfi Yasmina ( http://bookquickies.wordpress.com) * 50 peserta yang datang pertama akan mendapatkan buntelan gratis dari beberapa penerbit pendukung acara. ** Akan diadakan pemutaran film tentang buku nonstop: (1) Finding Forrester (2000); (2) You've Got Mail (1998); (3) Quills (2000); (4) Freedom Writers (2007); (5) Il Postino, The Postman (1994); (6) Notting Hill (1999); (7) The Disapperance of Garcia Lorca (1997); ** No Kontak panitia dari beberapa kota: Ria/Veteran Jakarta (081328690269); Gus Muh/Jogja (08886854721); Perca/Jakarta (081586189316); Antie/Bandung (08156075171); Jody/Menado (081356045047); Kobo/Medan (08126044109) ACARA INI DIDUKUNG OLEH: 1. Koran Kebudayaan Bataviasche Nouvelles (Jakarta) 2. Mata Hari Café (Jakarta) 3. Indonesia Buku (Jakarta) 4. Gramedia Pustaka Utama (Jakarta) 5. Serambi (Jakarta) 6. Bentang Pustaka (Yogyakarta) 7. Hikmah (Jakarta) 8. Mizan (Bandung) 9. Klub Sastra Bentang 10. Majalah EVE (Jakarta)
SEKILAS TENTANG WORLD BOOK DAY World Book Day yang dirancang oleh UNESCO adalah sebuah perayaan buku dan literasi yang diadakan setiap tahun di seluruh dunia. Indonesia pertama kali melaksanakannya di tahun 2006 dengan prakarsa Forum Indonesia Membaca yang didukung oleh berbagai pihak, baik itu pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat umum. Pada awalnya adalah bagian dari perayaan Hari Saint George di wilayah Katalonia sejak abad pertengahan dimana para pria memberikan mawar kepada kekasihnya. Namun sejak tahun 1923 para pedagang buku memengaruhi tradisi ini untuk menghormati Miguel de Cervantes, seorang pengarang yang meninggal dunia pada 23 April. Hingga itu sejak tahun 1925 para perempuan memberikan sebuah buku sebagai pengganti mawar yang diterimanya. Pada masa itu lebih dari 400.000 buku terjual dan ditukarkan dengan 4 juta mawar. Pada tahun 1995, Konferensi Umum UNESCO di Paris memutuskan tanggal 23 April sebagai World Book Day berdasar keberadaan Festival Katalonia serta pada tanggal tersebut, Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega dan Josep Pla meninggal dunia sedangkan Maurice Druon, Vladimir Nabokov, Manuel Mejía Vallejo and Halldór Laxness dilahirkan. Walaupun pada kasus Shakespeare dan Cervantes ada sedikit perbedaan karena masing–masing meninggal dihitung dengan sistem kalender yang berbeda dimana pada masa itu Inggris masih mempergunakan sistem Kalender Julian sedangkan Katalonia mempergunakan sistem Kalender Gregorian. Perayaan ini merupakan bentuk penghargaan dan kemitraan antara pengarang, penerbit, distributor, organisasi perbukuan serta komunitas–komunitas yang semuanya bekerja sama mempromosikan buku dan literasi sebagai bentuk pengayaan diri dan meningkatkan nilai–nilai sosial budaya kemanusiaan. Secara umum, tujuan diselenggarakannya World Book Day sebagai sebuah world event adalah untuk menyemangati masyarakat, terutama kalangan anak–anak untuk mengeksplorasi manfaat dan kesenangan yang bisa didapat dari buku dan membaca. Acara–acara yang mengangkat dunia literasi sudah diselenggarakan di Indonesia, diantaranya ada 'Hari Buku Nasional', 'Hari Kunjungan Perpustakaan' sampai berbagai pameran dan bazaar buku (book fair) di tingkat lokal maupun nasional. Seiring dengan adanya globalisasi informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan, sudah saatnya kita melebarkan aktivitas kita dalam dunia perbukuan dengan ikut berpartisipasi melakukan perayaan buku berskala internasional agar lebih menggaungkan buku dan literasi di tengah masyarakat Indonesia. sumber: http://www.worldbookdayindonesia.blogspot.com/
Terinspirasi oleh postingan Ms G dan May O May, kini akupun memamerkan meja kerjaku. Ini foto asli, tanpa rekayasa, apa adanya... dan hasilnya memang mencerminkan meja seorang pekerja yg rajin... @h_tanzil
Resensi Novel Senja di Himalaya - Kiran Desai, dimuat di Koran Tempo Edisi 6 April 2008. Prosesnya termasuk cepat karena aku kirim ke Kortem, Selasa 1 April 2008. Seperti biasa yang kasih judul ya redaksinya karena aku paling nggak bisa bikin judul resensi hehehe...
Kalimat terakhirnya ttg cover dan terjemahan cukup pedas, semoga penerbit hikmah memakluminya dan terus memberiku buntelan...:D @h_tanzil
Lowongan Moderator Milis PasarbukuPasarBuku, sebuah milis dengan jumlah member 7208 email account aktif, yang didirikan sejak 25 Januari 2000, memiliki rata-rata posting bulanan 600 mail. Sehubungan dengan padatnya posting yang harus dipilah, maka seringkali banyak posting yang tertahan di pending messages. Karena itu milis PasarBuku membuka lowongan sebagai moderator. Tanggung jawab utama moderatoradalah menyaring email/posting yang dunia perbukuan. Tentu saja, moderator tidak memperoleh gaji. bahkan kemungkinan besar duitnya berkurang akibat bandwidth yang mahal. Silahkan kirim satu alenia singkat, sebuah tulisan bebas dengan tema "Seandainya Saya Moderator Milis PasarBuku". Tulisan harus orisinal dan didukung justifikasi kemampuan mengelola milis. Silahkan kirim ke pasarbuku-owner[a]yahoogroups.com selambatnya 5 April 2008 jam 12.00 WIB. Pengumuman susunan moderator baru akan diumumkan Wien Muldian -the owner and founder- setelah rapat moderator PasarBuku, selambatnya seminggu setelah penutupan lowongan ini. Atas nama moderator PasarBuku,
Ternyata reviewku atas buku INDONESIA JAYA - Anand Krishna dikutip oleh Sri Sultan HB X sebagai bahan orasi budayanya yang dibacakan di Palembang pd tgl 10 November 2007 Karena reviewku tsb hanya beredar di cyber, berarti Sri Sultan mencomotnya dari milis atau blog. Apakah Sri sultan pernah mampir ke blog-ku...? Ini naskah orasi budayanya yang kuambil dari : http://article.melayuonline.com/?a=aWtxL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=sedangkan reviewku bisa ditengok di : http://bukuygkubaca.blogspot.com/2006/01/indonesia-jaya.html#linksOrasi Budaya BHINNEKA TUNGGAL IKA SEBAGAI STRATEGI MEMBANGUN KEINDONESIAAN PUNCAK PERINGATAN HUT I PUJASUMA (PUTRA JAWA-SUMATRA) Palembang, 10 November 2007 Latar Belakang Sultan Hb X HARI ini, 10 November 2007, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Ke-62. Untuk itu, ada baiknya jika kita mengingat kembali mutiara kata Bung Karno tentang Pahlawan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai pahlawannya”. Pesan itu saat sekarang ini menjadi lebih bermakna daripada peringatan pada tahun-tahun sebelumnya. Karena kemerdekaan Indonesia yang kita rebut atas jasa perjuangan para pahlawan itu, kini tengah menghadapi ancaman disintegrasi bangsa justru dari kita sendiri. Untuk itu, ada baiknya pula jika kita juga mau mengingat sejarah perjuangan bangsa, yang sesungguhnya dilakukan oleh seluruh elemen bangsa. Dalam hal sejarah itu, Bung Karno selalu mengajarkan kepada kita: “Belajarlah dari Sejarah”. Karena bangsa yang lupa akan sejarahnya, adalah bangsa yang hilang, dan rakyat yang tanpa masa lalu adalah rakyat yang tiada memiliki lagi jiwa semangat perjuangan. Belajar dari sejarah, bukan berarti untuk hidup di masa lalu, tetapi guna memetik hikmah dari pelajaran sejarah. Sebab, bila tidak belajar dari sejarah, kita harus mengulangi “pelajaran yang sama”, bahkan mungkin, harus memulainya dari awal. Dari sejarah akan kita temukan, bahwa budaya Nusantara memiliki pondasi peradaban yang tinggi di masa kerajaan-kerajaan besar Sriwijaya, Singasari, Majapahit, Demak, Mataram, Tarumanegara, Pajajaran, Kutai, Melayu, Samudra Pasai dan lain-lain. Lalu apa yang bisa dipelajari dari sejarah Sriwijaya melalui jejak-jejak peninggalannya? Kebesaran Sriwijaya justru bisa dilacak dari keberadaan Borobudur. Konon, pada periode 750-850 Masehi Wangsa Syailendra dari Sriwijaya berkuasa di Mataram Kuna, yang bersama-sama Wangsa Sanjaya dan masyarakat Jawa membangun mahakarya Borobudur. Sebagai negara maritim yang berbasis budaya tepian sungai yang tidak menetap di satu tempat dalam jangka waktu yang lama, Sriwijaya diduga tidak meninggalkan candi-candi seperti yang ada di Jawa [1]. Meski demikian, tidak berarti peradaban Sriwijaya tertinggal dari kerajaan-kerajaan di Jawa. Buktinya, yang terungkap dari prasasti Talang Tuo tahun 684 Masehi, menggambarkan keadilan dan penegakan hukum telah diberlakukan di masa Sriwijaya. Prasasti batu tersebut memuat aturan-aturan hukum yang intinya menyatakan bahwa ‘hukum berlaku sama‘, bahwa siapa pun tidak ada yang kebal hukum. Dalam prasasti ini terdapat pula sumpah jabatan yang memiliki konsekuensi hukuman bagi pejabat, bahkan raja sekali pun, jika melanggar sumpah [2].Jejak-jejak sejarah itu membuktikan bahwa peradaban Sriwijaya dan Mataram lebih dari seribu tahun yang lampau sudah sangat maju. Kala itu nenek-moyang kita telah mengenal berbagai ilmu yang menggunakan perhitungan yang rumit dan cermat. Pembangunan Borobudur yang menggunakan batu-batuan berton-ton, tentu membutuhkan kecermatan hitung, ketelitian pikir dan manajemen massal serta penuh dengan landasan filosofis. Namun penjajahan telah dengan sistematik menghilangkan ”ingatan kolektif” kita akan asal-usul peradaban itu. Dengan sengaja kita dipecah-belah, agar tidak bisa bersatu sebagai sebuah bangsa. Sejak itulah hingga kini, kita menjadi bangsa yang kehilangan karakter dan jatidiri aselinya yang pernah menjadi ‘perekat‘ Nusantara dan semangat keIndonesiaan kita. Persentuhan Budaya PALEMBANG, letaknya berada di persimpangan kebudayaan dan interaksi beragam manusia. Saudagar China, Eropa, Arab dan India adalah pengunjung rutin Palembang sebagai bandar perdagangan yang strategis dan aktif mengembangkan hubungan dagang ke Persia, China, India dan Jawa. Armada Sriwijaya telah melayari jalur perdagangan dari Teluk Parsi hingga ke China. Kekuatan maritimnya dapat dilacak dari peninggalan kemudi kapal yang ditemukan di Sungai Buah tahun 1960-an, yang diduga digunakan untuk mengemudikan kapal besar guna mengarungi samudra. Pengembara China, I Tsing, datang ke Sriwijaya pada tahun 672 Masehi mencatat, Sriwijaya saat itu telah menjadi kota dagang, kota pelajar, dengan penduduk dan raja beragama Buddha. Sarjana China itu sempat tinggal tujuh tahun di bumi Swarnadwipa dan sempat belajar bahasa Sanskerta. Pada tahun 700 Masehi, Sriwijaya telah menjadi pusat pengembangan agama Buddha dan ilmu pengetahuan. Bahkan pendeta Buddha yang ingin ke India dianjurkan untuk belajar terlebih dahulu di Palembang. Sejarah menunjukkan, proses integrasi berbagai budaya dan bangsa adalah keniscayaan dalam sejarah Nusantara, mereka bisa hidup bertetangga, saling menghormati. Sriwijaya saat itu terbuka bagi siapa pun, tanpa memandang agama, suku dan warna kulit. Islam yang kemudian menjadi agama mayoritas tidak pernah membuat takut pihak luar dan kelompok minoritas. Islam tidak pernah menjadi hambatan bagi pergaulan dengan berbagai bangsa dan suku, juga tidak pernah memaksakan agama. Hasilnya adalah Islam yang inklusif dan tidak beraliran keras. Setiap budaya punya sisi baik dan buruknya. Memadukan yang baik, menjadikannya sebagai perpaduan baru adalah cara yang bijak, daripada menolaknya semena-mena. Terhadap budaya orang dan diri sendiri, sikap yang baik adalah tidak merasa rendah diri, tetapi juga tidak terlalu sempit dalam membanggakan budaya sendiri. Beranilah belajar dari budaya orang lain dan budaya sendiri. Kita bisa belajar banyak hal positif dari keberagaman manusia, agama, dan suku bangsa, yang bisa dilakukan lewat Dialog Budaya antaretnik. Bhinneka Tunggal-Ika Sebagai Strategi DI MASA Majapahit ketika itu hidup seorang pujangga, Mpu Tantular, yang menulis Kakawin Sutasoma dengan kalimat saktinya: “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” –biar pun kita berbeda-beda, sesungguhnya kita itu satu, tiada kewajiban mendua. Konsep pluralisme seorang pujangga, di tangan Gadjah Mada, seorang bhayangkara negara, dengan Sumpah Palapa-nya kemudian diterjemahkan menjadi penaklukan wilayah. Dari visi kita sekarang, Sumpah Palapa itu bertolak-belakang dengan aspirasi bangsa pluralistik, yang pada abad 20 ditegakkan melalui Sumpah Pemuda. Pengalaman mengajarkan, bahwa bukan semangat kemanunggalan (tunggal-ika) yang potensial untuk melahirkan kesatuan dan persatuan yang kuat, melainkan pengakuan akan adanya pluralitas (bhinneka), dan kesediaan untuk menghormati kemajemukan bangsa Indonesia. Inilah yang lebih menjamin persatuan dan kesatuan serta integrasi nasional dalam rentang waktu jangka panjang yang kukuh dan lestari. Mitos “kesatuan” yang digunakan dalam menata pluralitas (bhinneka tunggal ika), kini tengah menghadapi gugatan sejarah yang menyakitkan. Gugatan itu muncul, karena selain tidak dapat menciptakan keadilan, konsep kesatuan dianggap telah dimanipulasi penguasa, semata untuk melanggengkan kekuasaannya. Kemajemukan ini seringkali diabaikan dalam wacana politik elite negeri ini. Sekali pun diakui, bahwa Indonesia adalah masyarakat yang berbeda-beda (bhinneka). Tetapi siapa pun diri kita, harus selalu diingat-ingatkan bahwa sesungguhnya kita ini adalah satu (tunggal-ika). Artinya, Bhinneka Tunggal Ika hendaknya tidak hanya dikeramatkan sebagai simbol NKRI saja, tetapi juga diaktualisasikan sebagai semangat dan strategi membangun keIndonesiaan. Dialog AntarEtnik Dalam upaya membangun semangat keIndonesiaan itu, dapat dilakukan melalui Dialog Budaya antaretnik [3]. Setiap kelompok budaya hendaknya saling menyapa dan mengenal untuk saling memberi dan menerima. Misalnya, dari sistem nilai Jawa, etnis Bugis bisa mendewasakan prinsip siri‘, agar tidak terkungkung pada masalah-masalah sempit kekeluargaan, tapi menjangkau hal-hal yang lebih besar artinya bagi bangsa. Dari etnis Minang, orang Bugis dapat belajar tentang prinsip musyawarah, karena mereka terbiasa menyelesaikan persoalan secara kaku, pantang berubah, sebab siri‘ memerlukan pemenuhan seketika. Dari sistem nilai Jawa, orang Bugis dapat belajar tentang tenggang rasa dan kekuatan di dalam kalbu. Kelompok etnis Jawa dan Minang pun dapat belajar dari sistem nilai Bugis-Makasar dalam penekanan kesetiaan pada kata (kana). Orang Bugis tidak suka melebih-lebihkan kata. Demikian juga, masyarakat etnik yang lain agar belajar dari budaya malu (al-haya‘) dan berkata yang benar (quli al-haq), dua integritas pribadi Muslim Aceh yang khas [4]. Setiap pejabat publik hendaknya merasa malu jika melakukan kesalahan, dan siap mengundurkan diri dari jabatan, ketika terlibat proses hukum. Merajut Serat-Serat Budaya Bhinneka Tunggal Ika hendaknya bukan hanya digunakan sebatas slogan, tetapi sebagai strategi kebudayaan, yang dituangkan ke dalam kebijakan publik guna membangun keIndonesiaan. Dalam konteks itu, kebijakan dan strategi kebudayaan harus ditujukan agar seluruh kekayaan budaya-budaya etnik terjalin dalam “serat-serat budaya” yang saling menguatkan. Umar Kayam berbicara tentang “serat-serat kebudayaan Nusantara”, yang mengandung konotasi pluralitas yang saling memperkuat, membentuk batang tubuh Kebudayaan Indonesia Baru yang kokoh, laksana sebatang pohon nyiur yang berdiri tegak oleh serat-serat kayu, akar memikul batang, batang menunjang daun dan buah, atau seperti anyaman benang-benang pada tenunan. Hingga kini banyak pakar melihat pluralitas kita tak lebih sebagai “mozaik” yang indah dipandang. Implementasi kebijakan yang dijabarkan melalui strategi itu adalah, bagaimana ragam kekayaan budaya dan adat-istiadat itu dijadikan jalinan “serat-serat budaya” Indonesia yang terikat erat. Catatan Akhir ALANGKAH besarnya manfaat jika pluralitas budaya dianyam menjadi serat-serat yang saling memperkuat. Dalam kaitan ini kita juga bisa berbicara dalam hubungan Islam-Kristen dan Melayu-Cina. Dengan begitu kita bukan hanya akan hidup bersama secara lebih rukun dengan kepekaan akan hak/kewajiban individual-sosial yang lebih tinggi. Lebih dari itu, kita juga akan sanggup melaksanakan rencana-rencana pembangunan dengan sesedikit mungkin distorsi, saling curiga dan kesalahmengertian. Kita semua tentu sepakat bahwa Kebudayaan Indonesia Baru adalah pohon yang berdiri tegak, rimbun dan berbuah lebat, pengandaian Indonesia yang maju dan beradab. Indonesia haruslah mampu memakmurkan, memajukan dan memberi rasa keadilan bagi seluruh rakyatnya dari generasi ke generasi. Dengan kita mampu menerapkan Bhinneka Tunggal Ika sebagai strategi budaya guna membangun keIndonesiaan, tentu setiap etnik akan merasa bangga memiliki negeri yang namanya Indonesia ini. Palembang, 10 November 2007 KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, HAMENGKU BUWONO X [1] Ilham Khoiri, “Mengais Jejak Kebesaran Sriwijaya”, Kompas, 28 Januari 2005. [2] H. Tanzil, “Indonesia Jaya-Segemilang Apa pun Masa Lalumu Masa Depanmu Lebih Gemilang”, Book Review karangan Anand Krishna “Bagimu Ibu Pertiwi”.[3] Adaptasi Mochtar Pabottinggi, “Hak-Hak Individu dan Sosial di Indonesia”, Yayasan Paramadina. [4] Ameer Hamzah, ”Budaya Malu dan Berkata Benar dalam Masyarakat Aceh”, Serambi Minggu, 12 Desember 2003.
 | Imajio | Mar 2, '08 10:35 PM for everyone |
Majalah Sastra ImajioSetelah sempat tertunda beberapa waktu akhirnya, majalah Imajio terbit kembali. Imjio nama baru dari majalah sastra Aksara. Selain nama, moto, dan kemasan baru, pada intinya isi dari majalah ini masih sama dengan majalah Aksara, yaitu mengupas masalah sastra dan seni. Hanya saja karena ada perubahan di susunan dewan redaksinya , dan ada beberapa hal lainnya, maka disepakati mengganti nama Aksara menjadi Imajio. Kebetulan di susunan redaksi yang baru ini, aku dipercaya untuk mengasuh rubrik Kaji (resensi buku). Nah di rubrik kaji ini yang mengisinya adalah Baihaqi atau yg dikenal dengan Q, peresensi cyber dan salah satu pasien Kubugil (Kutu Buku Gila) yang mengkaji dengan baik novel pemenang DKJ 2006 : Hubbu – Mashuri. Berminat membaca majalah Sastra Imajio ? majalah yang memiliki moto “Semua Bisa Bersastra” yang terbit dua bulan sekali ini dijual di toko-toko buku seharga Rp 9.500,,- (Jawa). Rp. 11.500 (Luar Jawa). Berikut daftar isi majalah Imajio edisi Februari-Maret 2008. DAFTAR ISI IMAJIO EDISI-2 (Feb- Mar 2008) (A) Daftar Isi Edisi-2 Imajio: Salam Imajio Surat 1) Retas: a) Saut Situmorang: Gandrung pada Cersil dan Chairil Anwar b) Proses Kreatif Wayan Sunarta: Pertemuan dengan Puisi 2) Lentera: a) Proses Belajar Dalam Penulisan Puisi Bagian 2: Peran Keakraban dalam Pengolahan Materi Tulisan (Titon Rahmawan) b) Brained-Based Writing (Hernowo) c) Tujuh Tips untuk Membiasakan Menulis (Efvy Zamidra Zam) 3) Sketsa: a) Litera-TOUR di Luzern (Sigit Susanto) b) Orhan Pamuk 4) Cerita: a) Duri (Hudan Hidayat) b) Batik (Maria Bo Niok) c) I La Guliga (M. Aan Mansyur) 5) Simpul: Terminal Tiga: Dirikan Rumah Baca di Dusun Terpencil (Stevi Sundah) 6) Ulas: a) Seniman adalah intelektual (Muthia Esfand S.S.) b) Masa Remaja, Sastra dan Fenomena Chiklit-Teelit (Indra Tjahyadi) 7) Puisi: Puisi karya: Edu Badrus Bilapora, Joko Susilo, F. Aziz Manna, Aguk Irawan MN 8) Figur: a) Sutardji C. Bachri. b) Jonathan Rahardjo 9) Pernik: -Ratih Kumala: Rikuh Ketemu Penulis Favorit -Pesta Komunitas Apsas -Lomba menulis Cerpen 10) Kaji: Hubbu karya Mashuri (Peresensi: Baihaqi) 11) Ima & Jio: Film Favorit (Iwan Sulistiawan) (B) Daftar Isi Edisi-2 Eksis *) 1) Cerpen: a) Di Tepi Jurang (Ami Maftuhatin M.) b) Suatu Hari di Rumah Sakit Jiwa (Fitriani) c) Mbakyu Jumi (Kun Aliahiqmah) 2) Puisi: Puisi karya: Dian Erica Rachmadani, Hani Isnaeyatun, Fitriyani, Mussolin Putera, Anastasia, Murniyati 3) Diksi Mencek Versus Mengecek (Eko Sugiarto) *) Eksis adalah lembar khusus yang diperuntukkan bagi karya cipta para remaja Bagi yang ingin mengirim naskah essai, cerpen, puisi, reportase, karya terjemahan, catatan perjalanan, kritik sastra, resensi buku, dll dapat mengirimkannya ke redaksiimajio@yahoo.com atau imajio@gmail.com Ingin berlangganan majalah Imajio ? Hubungi Redaksi Imajio : E-mail : imajio@gmail.com, redaksiimajio@yahoo.com Alamat : Komplek Deplu Kav. 224B, Cipadu jaya Tanggerang, Indonesia Telp : (021) 73882702 , 0813-80125255 @h_tanzil
 Inilah janji pernikahan yang 9 tahun lalu kami ucapkan di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya : Di hadapan Allah dan Jemaat-Nya, saya: HERNADI TANZILMenyatakan mengambil : EVY TRIANA TEDJA LESTARISelaku istri, dan sebagai seorang suami yang setia dan takut akan Tuhan,aku berjanji akan mengasihimu pada waktu kelimpahan maupun kekurangan,pada waktu sehat maupun sakit, sampai kematian memisahkan kita.Di hadapan Allah dan Jemaat-Nya, saya: EVY TRIANA TEDJA LESTARIMenyatakan mengambil : HERNADI TANZILSelaku suami, dan sebagai seorang istri yang setia dan takut akan Tuhan,aku berjanji akan mengasihimu pada waktu kelimpahan maupun kekurangan,pada waktu sehat maupun sakit, sampai kematian memisahkan kita.Sumber : Tata kebaktian peneguhan & pemberkatan nikah “Hernadi & Evy”, 27 Febr 1999
 Hari ini, 21 Febr 2007 merupakan hari ke lima belas setelah imlek atau dikenal dengan hari Cap Go Meh, apa itu Cap Go Meh ? Berikut artikel mengenai Cap Go Meh yang saya ambil dari Net. Hari Raya Cap Go Meh |  |
sumber : http://indonesian.cri.cn/chinaabc/chapter18/chapter180105.htm
Hari raya Cap Go Meh atau Yuan Xiaojie dalam bahasa Tionghoa yang jatuh pada tanggal 15 bulan pertama tahun Imlek adalah salah satu hari raya tradisional Tiongkok. Menurut tradisi rakyat Tiongkok, sehabis Cap Go Meh, maka berakhirlah seluruh perayaan Tahun Baru Imlek. Hari raya Cap Go Meh juga disebut Yuanxi, Yuanye atau Shang Yuanjie dalam bahasa Tionghoa. Malam Cap Go Meh adalah malam pertama bulan purnama setiap tahun baru. Pada malam itu, rakyat Tiongkok mempunyai kebiasaan memasang lampion berwarna-warni, maka festival ini juga disebut sebagai “hari raya lampion”. Menyaksikan lampion dan makan onde-onde adalah dua bagian penting pada hari raya Cap Go Meh. Dan dari mana asal usul tradisi pemasangan lampion pada Festival Cap Go Meh? Konon pada tahun 180 Sebelum Masehi, Kaisar Hanwudi yang berkuasa pada masa Dinasti Han Barat naik takhta pada tanggal 15 bulan pertama Imlek. Untuk merayakan penobatannya, Kaisar Han Wudi mengambil keputusan untuk menjadikan tanggal 15 bulan pertama sebagai hari raya lampion. Pada malam tanggal 15 bulan pertama setiap tahun, ia berkebiasaan bertamasya ke luar istana dan merayakan festival itu bersama rakyat. Pada tahun 104 Sebelum Masehi, Festival Cap Go Meh secara resmi dicantumkan sebagai hari raya nasional. Berkat keputusan itu, skala Festival Cap Go Meh meningkat lebih lanjut. Menurut peraturan, setiap tempat publik dan setiap keluarga diharuskan memasang lampion berwarna-warni, khususnya di jalan utama dan pusat kebudayaan akan diadakan pameran lampion besar-besaran yang meriah. Rakyat, baik yang berusia tua maupun yang berusia muda, pria maupun wanita semuanya akan berdatangan ke pekan lampion untuk menyaksikan lampion dan tari lampion naga, di samping menebak teka-teki. Lampion berwarna yang dipasang pada Festival Cap Go Meh kebanyakan dibuat dari kertas berwarna terang. Lampion bernama “zoumadeng” atau lampion kuda berlari adalah salah satu macam lampion yan paling menarik. Konon lampion itu sudah bersejarah seribu tahun lamanya. Makan onde-onde pada hari raya Cap Go Meh juga merupakan salah satu kebiasaan lama. Kebiasaan makan onde-onde dimulai dari masa Dinasti Song (tahun 960-tahun 1279 Masehi). Onde-onde dibuat dengan tepung beras ketan dan selai buah. Setelah dimasak, rasanya lezat sekali. Pada kemudian hari, rakyat di bagian utara menyebut makanan itu sebagai “yuanxiao” dan rakyat di selatan menyebutnya sebagai “tangyuan”, dan pembuatannya pun berlainan dari utara ke selatan. Kini onde-onde bermacam-macam, dan lain tempat lain cara pembuatan dan rasanya. Pada Festival Cap Go Meh, rakyat selain menikmati lampion dan makan onde-onde, juga mengadakan kegiatan hiburan lainnya, seperti jangkungan, tari yangge (semacam tari khas di bagian utara Tiongkok) dan pertunjukan tari singa.
*-*
|
 Ditengah suasana riuh, berdesak-desakan, dan bau keringat yang selalu saya rasakan di setiap pameran IKAPI di Bandung, saya selalu menyempatkan diri berburu buku. Seperti biasa buku yang saya buru di setiap pameran adalah buku-buku yang terdiscount lebih dari 20 % dan buku-buku yang sudah out of print dan sulit ditemukan di toko-toko buku. Nah, dari perburuan di sabtu sore (5/1/2008), inilah buku-buku yang kuperoleh : 1. Pembantaian Masal 1740 – Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma – terbitan Obor Buku ini sudah bertahun-tahun kuincar di stand Obor. Stand Obor dalam setiap pameran selalu menyertakan buku-buku Out of Print atau buku-buku cetakan lama yang menumpuk di gudangnya dengan discount sektiar 30-40%. Setiap pameran saya selalu mengincar buku ini dengan harapan suatu saat akan terdiscount. Akhirnya penantian itu terwujud. Buku karya Prof Hembing yang kita kenal dengan ahli obat2 tradisional ini terdiscount sebesar 40 % !. Dan karena kenal dengan bapak berkacamata yang selalu menjaga stand obor, akhirnya discountnya ditambah 10 % menjadi 50%. Jadi buku ini yang tadinya seharga Rp. 52.000,- menjadi Rp. 26.000,- 2. Tafsir Sejarah Negara Kertagama – Prof Dr. Slamet Mulyana – LKiS Buku ini sengaja kubeli karena aku memang bercita-cita mengoleksi seluruh karya Prof. Slamet Mulyana, sejarahwan hebat yang namanya sempat ditenggelamkan di jaman Orde Baru. Dengan demikian aku sudah memiliki 3 buah karyanya. Buku yg kuperoleh di stand Lkis ini didiscount sebesar 25%, dari Rp. 42.500,- menjadi Rp. 32.000,- 3. Diselamatkan oleh AnugerahNya – John Newton – Penerbit Andi Buku ini merupakan buku autobiografi John Newton pengarang lagu Amazing Grace, lagu gereja yang paling populer di dunia. Saat Ratu Elizabeth II dimahkotai sebagai Ratu Inggris, lagu Amazing Grace dieprdengarkan. Saat itu Ratu Elizabeth II begitu terkesan dengan lagu ini dan mengatakan bahwa sebenarnya dirinya tidak layak menerima mahkota kerajaan, karena yang berhak menerima mahkota kemuliaan hanyalah Tuhan pencipta semesta. Buku ini kubeli di stand Penerbit Andi dengan discount 50 % dari Rp. 15.000,- menjadi Rp. 7.000,- 4. Prahara Budaya – D. S. Moeljanto & Taufik Ismail – Mizan Buku ini buku titipan Lina Sitorus, aku menemukannya di Stand Lawang Buku. Waktu kulihat buku ini aku langsung ingat Sitorus yang pernah menelponku dan bilang bahwa dia sedang mencari buku ini. Buku ini termasuk buku langka, aku sendiri memperoleh buku ini dengan langsung mendatangi kator Mizan yang masih di jl. Yodkali beberapa tahun yang lampau. Waktu itupun buku tersebut tinggal 2 eks saja. Buku Prahara Budaya ini kuperoleh dengan harga Rp. 40.000,- menurutku murah karena temanku pernah menjual 4 buah buku ini seharga 75 ribu dan langsung ludes. 5. Opik Sol Cool! Nih! – Jurie G. Jarian - Mizania Buku ini gratis langsung diberikan penulisnya Jurie G. Jarian alias Mang Jamal (MJ) ! di pameran kemarin. Kebetulan aku memang janjian untuk ketemua Mang Jamal di pameran, ternyata dari temannya dia memperoleh info kalau novel ke-6 nya sudah ada di stand Mizan! Kami langsung menuju stand Mizan dan agak kesulitan mencarinya karena MJ mengira judulnya adalah Darul, sesuai dengan judul yang dia berikan pada penerbit. Setelah menyerah karena tak ketemu, bahkan penjaga stand nyapun tak tahu akhirnya kami menemukannya….MJ tersentak kaget karena judulnya sungguh diluar dugaan yaitu “Opik Sok Cool! Nih! Hahahaha…….MJ dan aku tertawa-tawa karena judulnya jauh banget dari judul yang diberikan MJ untuk novel ke-6nya ini yaitu ’Darul’. Belum lagi covernya yang begaya chick lit islami banget! Hahahaha…sepanjang pameran dan sepulangnya ketika kami ‘ngopi’ bareng di Starbuck – BIP Mang Jamal tak henti-hentinya menceritakan kekagetannya dengan judul dan cover novelnya yang diterbitkan oleh Mizania…..selamat untuk Mang Jamal! @ h_tanzil
 Semenjak wafatnya H.M. Soeharto (27/1/2008) buku-buku dengan tema Soeharto baik itu biografi, maupun buku-buku yang menceritakan sepak terjang Presiden ke-2 Indonesia itu kini mulai dilirik orang kembali. Beberapa penjual buku kini mulai mengeluarkan kembali stock buku-buku ttg Soeharto. apa saja buku tentang Soeharto yang pernah terbit ? Berikut artikel ttg buku-buku Soeharto yang dimuat di Koran Tempo edisi Senin, 28 Jan 2008 DALAM DUNIA BUKUSukar rasanya mencari pembanding bagi Soeharto dalam hal buku. Sebagai presiden dan penguasa selama lebih dari tiga dasawarsa, puluhan judul buku tentang dirinya telah diterbitkan. Tidak hanya dalam bahasa Indonesia, sejumlah buku berbahasa Inggris karya penulis asing meramaikan daftar panjang buku tentang Soeharto. Banyak yang memuja, tidak kurang pula yang melucuti “dosa-dosa”-nya saat masih berkuasa. Di antara sekian banyak buku tersebut, biografi The Smiling General: President Soeharto of Indonesia adalah yang paling ramai dibicarakan. Ditulis oleh R.O. Roeder pada 1969, hanya berselang tiga tahun setelah Soeharto mengambil alih pemerintahan dari tangan Orde Lama, buku ini mencatat naiknya Soeharto ke puncak kekuasaan. Ada pula buku lain yang tidak kurang mencorongnya, otobiografi Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang terbit pada 1989. Buku ini berisi penuturan Soeharto kepada G. Dwipayana dan Ramadhan K.H. (seusai serangkaian wawancara tertulis). Buku ini banyak dipandang sebagai refleksi diri, juga sebagai apologia Soeharto terhadap berbagai peristiwa dan pandangan orang atas dirinya. Dalam salah satu bagian buku ini, Soeharto bahkan menyinggung pula perihal kematiannya dan keinginan untuk dimakamkan bersisian dengan istrinya jika kelak keduanya dipanggil Yang Kuasa. Sebelumnya, pada 1976, ada pula buku yang memaparkan pembelaan Soeharto terhadap Pancasila, yang amat diagungkan pemerintah Orde Baru. Buku Pandangan Presiden Soeharto tentang Pancasila ini ditulis oleh Krissantono dan diterbitkan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Sekretariat Negara kemudian menerbitkannya kembali pada tahun yang sama. Tim dokumentasi Presiden RI pernah pula menerbitkan buku Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983-11 Maret 1988 pada 1992. Buku ini diedit oleh Nazaruddin Sjamsuddin, orang dekat Soeharto, yang pada era reformasi kemudian menjabat Ketua Komisi Pemilihan Umum. Lalu pada 1996 terbit pula buku Managemen Presiden Soeharto, Penuturan 17 Menteri dengan editor Riant Nugroho Dwidjowijoto. Karena menyandarkan pada penuturan dan kesaksian menteri yang notabene adalah anak buah Soeharto, buku ini tidak ubahnya hagiography— pujian yang diperuntukkan bagi Soeharto. Ketika lengser dari jabatannya, Soeharto menghadapi terpaan serangan dari berbagai pihak. Orang-orang yang setia kepadanya kemudian membentuk lembaga untuk mengembalikan nama besarnya. Soeharto Center—lembaga yang bergerak untuk mendongkrak citra penguasa Orde Baru itu—dalam situsnya mencatat sejumlah buku. Ada Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat kepada Pak Harto 21 Mei-31 Desember 1998, yang terbit pada 1999. Anton Tabah penulisnya. Setahun setelah itu, kembali Anton Tabah, sebagai editor, menerbitkan buku Dua Jenderal Bicara tentang Gestapu/PKI. Buku yang dicetak oleh CV Sahabat, Klaten, ini menjadi penangkal gencarnya wacana yang mengaitkan Soeharto dengan peristiwa G- 30-S. Pada 1999, ada pula buku unik yang muncul untuk mendukung Soeharto, yang tengah digempur. Judulnya Pandangan Perempuan tentang Soeharto, yang ditulis La Rose dan Upi Tuti Sundari. Yayasan milik La Rose penerbitnya. Ketika proses persidangan Soeharto ramai dibicarakan, buku-buku berisi pembelaan terhadap dirinya tidak kurang banyaknya. Pada 2001, pengacara Soeharto, Juan Felix Tampubolon, meluncurkan buku berjudul Perkara HM. Soeharto: Politisasi Hukum yang ditulis bersama Dr Indriyanto Seno Adji, SH, MH, dan diterbitkan oleh Multimedia Metrie. Pada tahun yang sama, buku sejenis muncul dengan judul Proses Peradilan Soeharto Presiden Ke-2: Penegakan Hukum atau Komoditi Politik. Penulisnya menteri pada masa Orde Baru, Ismail Saleh, SH. Buku ini diterbitkan yayasan yang disebut-sebut merupakan milik Soeharto, Dharmais. Tidak hanya dari sisi politik, dukungan terhadap Soeharto tampak lewat buku berbingkai agama. Ada Kepemimpinan Soeharto dalam Bingkai Teologi. Penulisnya Elieser S. Hadmodjo dan penerbitnya Yayasan Kelopak. Jatuhnya Soeharto juga dimanfaatkan para penulis asing untuk membingkai potret politik Indonesia lewat buku. Sebanyak buku yang memujinya, sebanyak itu pula buku yang mencoba mengungkit kelemahan pribadi dan pemerintahnya. Buku Suharto, A Political Biography, karya Robert Edward Elson, termasuk yang banyak dibicarakan. Diterbitkan pada 2001 oleh Cambridge University Press, buku karya profesor di Griffith University ini antara lain menyebut “Indonesia baru yang diciptakan melalui tahap- tahap pembangunan berencana telah melahirkan kekuatan baru yang menginginkan 'reformasi total'”. Sebanyak pujian yang mengalir untuknya, sebanyak itu pula buku yang mengupas daftar “kesalahan” Soeharto. Buku yang mendapat sambutan paling meriah adalah Soeharto File, Sisi Sejarah Indonesia, yang ditulis sejarawan Asvi Warman Adam. Buku terbitan Ombak, 2005, ini terbit tidak lama setelah buku Soekarno File, Kronologi Suatu Keruntuhan karya Antonie C.A. Dake muncul dan menyita perhatian publik. Meski menolak disebut menghadang buku Dake, Asvi mengakui buku ini melihat “keterlibatan” Soeharto dalam peristiwa berdarah itu lewat keanehan peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto. Di luar itu, tidak sedikit buku yang mencoba memotret lewat lensa yang lebih netral. Di antaranya Soeharto Menjaring Matahari karya Zaim Saidi, aktivis lembaga swadaya masyarakat. Buku terbitan Mizan Pustaka ini menjelaskan secara komprehensif tarik-ulur reformasi ekonomi dalam kurun waktu 15 tahun sejak Soeharto mulai berkuasa. ANGELA DEWI
 Resensiku atas buku Bulan Jingga dalam Kepala - Fadjroel Rachman akhirnya dimuat di Media Indonesia ed. Sabtu, 05 Januari 2008. Ini Resensi keduaku yang dimuat oleh Media Indonesia setelah setahun yang memuat review singkat Snow Flower - Lisa See. Tadinya udah pesimis karena setiap ngiri m ke MI selalu tidak dimuat. Sabtu siang itu iseng-iseng aku mampir ke kios koran dekat rumah, karena ingat kalau kolom Bedah Pustaka di MI muncul di hari Sabtu, aku segera membuka koran MI dan ternyata.....resensiku dimuat!!!!! Kali ini identitasku ditulisnya sebagai pecinta buku, moderator milis pasarbuku dan Apresiasi Sastra. Padahal di resensi yg kukirim kutulis Book Bloger....hehe..rupanya oleh MI aku lebih dikenal sebagai moderator milis.... Dan seperti biasa ketika kutunjukkan pada Sherine dia langsung bilang gini : "Huh! cintanya sama buku bukannya sama anak sendiri!"
 Ini dia 10 + 5 Buku-buku Pilihanku , 1. Blindness – Jose Samarago 2. Bulan Jingga dalam Kepala – M. Fadjroel Rachman 3. Dong Mu – Jamal 4. Historian – Elizabet Kostova 5. Janda dari Jirah – Cok Sawitri 6. Middlesex – Jefrey Eugenides 7. My Name is Red – Orhan Pamuk 8. Out – Natsuo Kirino 9. Sintren – Dianing 10. The Professor and The Madman – Simon Winchester Kesepuluh buku-buku tersebut diurut berdasarkan alfabet, jadi tidak mencerminkan urutan peringkat. Pemilihan kesepuluh buku ini tentu saja bukan berdasarkan nilai-nilai sastrawi ataupun lainnya melainkan hanya semata penilaian subyektif saya pribadi. Buku-buku mana yang membuat saya terkesan, menawarkan kebaruan tema, menambah wawasan berpikir saya, dan juga buku-buku yang membuat saya berseru O My God!, atau ini ‘buku ini hebat!’, atau ‘asik sekali membaca buku ini!’, atau ‘ ooo…begitu toh’, dll. Bagaimana dengan buku-buku non fiksi ? Tahun ini saya jarang membaca buku non fiksi, namun dari sedikit yang saya baca saya memilih 5 buku yang paling berkesan menurut saya, yaitu : 1. Cherish Every Moment – Arvan Pradiansyah Jesus Dynasti – James Tabor 2. Dinasti Yesus – James R Tabor 3. Instrumen orang Sukses – Ardian Syam 4. Menerbitkan Buku intu gampang – Jonru 5. The Story of Christianity - Michael Collins & Mather A. Price Kelima buku non fiksi tersebut membuka wawasan dan cara berpikir saya, salah satunya adalah buku kontroversi Dinasti Yesus, namun bukan berarti buku tersebut menggoyahkan iman saya akan keilahian Yesus, melainkan buku tersebut membuka wawasan saya akan Yesus yang disajikan secara sejarah dan deskripsi tentang zaman serta budaya yang menyertainya. @h_tanzil
 Sore kemarin selepas pulang kerja kulihat sebuah amplop putih yang ditujukan pada : Bapak/Ibu Hernadi Tanzil. Setelah kuamati ternyat pengirimnya SD Talenta - Computer Course dan ketika kubuka ternyata isinya Katu Natal dari Sherine ! Rupanya Kartu Natal tersebut dibuatnya sebelum libur saat pelajaran Computer di sekolahnya. Sherine sendiri tak menduga kalau kartu natal itu kelak akan diposkan ke rumah oleh pihak sekolah. Tentu saja dia jadi terheran-heran melihat karyanya koq tau-tau ada ada di rumah...:) @h_tanzil
 Selamat Natal......Tuhan Memberkati....
Agar Natal menjadi bermakna, berilah Kristus tempat utama di hatimu
 Kemarin sore setiba aku di rumah selepas kerja, kulihat Sherine sedang duduk manis di depan komputer. Di depannya tampak terbuka sebuah buku favoritnya, ketika kulihat di layar monitornya, ternyata Sherine sedang menulis / meringkas apa yang sedang dia baca ! Rupanya dia sering melihat aku duduk manis di depan komputer dengan sebuah buku yang terbuka untuk mereview sebuah buku, ternyata apa yang selama ini kulakukan ditirunya hehehe...Lihat saja ekspresi mulutnya...ini ekspresi mulutku kalau aku lagi serius...:) Buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya....
 BANDUNG (PR) Buku fenomenal karya Haryoto Kunto berjudul "Wajah Bandoeng tempo Doeloe", akan kembali diterbitkan PT. Granesia Bandung. Pencetakan kembali buku tersebut merupakan upaya untuk memperkaya khazanah perbukuan di Bandung, sekaligus memperkenalkan kembali Bandung tempo dulu kepada generasi saat ini. Hal itu diungkap Direktur PT Granesia, Drs. Joko Hendarto, S.H., M.B.A., Kamis (13/12) di Bandung. Menurut Joko, untuk tahap awal akan dicetak 10.000 ekslempar dan rencanaya akan diterbitkan Januari 2008. Selain buku tersebut, juga diterbitkan dua buku Haryoto Kunto lainnya sebagai pendamping. Kedua buku itu adalah "Ramadhan di Priangan" dan "Nasib Bangunan Bersejarah di Kota Bandung" ------------------ Buku karya "kuncen Bandung" Haryoto Kunto itu, pertama kali diterbitkan PT Granesia setebal 353 halaman pada tahun 1984/1985 sebanyak 5.000 ekslempar. Sementara "Ramadhan di Priangan", pertama kali dicetak tahun 1996 dan "Nasib Bangunan Bersejarah di Kota Bandung" tahun 2000. ------------- sumber : Pikiran Rakyat ed Jumat, 14 Desember 2007 Wah, akhirnya diterbitkan ulang juga bukunya Pak Kunto yang legendaris ini.Saya sendiri punya yang cetakan II / 1984. Kenangan saat membeli buku tsb di TB Gramedia Merdeka tak pernah kulupakan, karena buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe merupakan buku pertama yang kubeli sendiri.Kini buku tsb sudah menguning dan halamannya sudah banyak yang lepas...Bersyukur akan diterbitkan ulang..harus beli ah, biar bisa baca-baca lagi secara nyaman.Konon harga buku yang terbitan tahun 1984 tsb di pasaran buku2 antik harganya sudah mencapai ratusan ribu, padahal sesuai dengan label harga yang masih menempel di buku tsb, buku legendaris tsb kuperoleh dengan harga Rp. 4.000,- saja.@h_tanzil
| |