ReviewReviewReviewLanangAug 11, '08 11:29 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Yonathan Rahardjo
Sebenarnya agak terlambat untuk membicarakan novel Lanang – Yonathan Rahardjo, pemenang harapan II novel DKJ 2006. Novel yang terbit sejak Mei 2008 ini telah banyak menuai komentar, ada yang memuji dan ada juga yang mengkritiknya. Ketika novel ini didiskusikan di TIM pada bulan Juli yang lalu, novel ini didiskusikan dengan sangat kritis oleh para pengamat dan pelaku sastra nasional.

Arpesiasi atas novel ini ternyata tak berhenti di ruang-ruang diskusi sastra, kritikan, pujian, dan beraneka tanggapan dari berbagai kalangan terus berseliweran di ruang cyber, baik di milis-milis sastra, maupun blog-blog yang membahas buku ini. Kini semua komentar, diskusi, essai, dan makalah yang membahas novel ini telah dikumpulkan oleh penulisnya dalam sebuah blog yang diberi nama http://novellanang.co.cc

Novel ini diawali dengan deskripsi suasana pedesaan ketika dokter hewan Lanang tengah menolong kelahiran seekor anak sapi perahan. Proses kelahiran anak sapi ini berlangsung dengan lancar dan disambut gembira oleh si empunya sapi. Sepulangnya, saat lanang memadu kasih dengan istrinya, mucullah sosok mengerikan dari dalam tanah. Bentuknya menyerupai babi, namun memiliki sayap dan bisa terbang. Belum lagi Lanang sadar dari rasa kagetnya, burung babi hutan yang memporak porandakan rumahnya itu terbang dan lenyap entah kemana.

Kemunculan burung babi hutan itu ternyata diikuti oleh kematian mendadak sapi-sapi perah di desa tempat lanang bekerja, bagai wabah ganas, kematian itu menyebar hingga ke seantero nusantara. Para ahli ternak mulai mencari penyebab wabah kematian sapi-sapi perah itu, namun penyakit aneh yang menyertai kematian para sapi perah tak bisa diidentifikasi secara ilmiah hingga seorang dukun hewan memastikan bahwa burung babi hutan yang pernah mendatangi lananglah penyebab wabah tersebut.

Penasaran dengan sosok burung babi hutan, lanang terobesesi untuk mencari tahu apa sebenarnya mahluk tersebut. Berbagai usaha dilakukannya hingga akhirnya berkat kegemarannya mengumpulkan cairan tubuh dari para wanita yang dikencaninya, ia berhasil merumuskan sebuah cara ilmiah plus mistis guna menghadirkan sosok burung babi hutan. Usahanya tersebut berhasil, burung babi hutan berhasil ditembaknya hingga tewas. Bersamaan dengan tewasnya mahluk tersebut lenyap juga wabah penyakit yang melanda para sapi perahan

Lanang pun menjadi pahlawan. Namun ini bukan akhir dari kisah Lanang, tewasnya burung babi hutan belum menjawab apa dan darimana mahluk tersebut berasal. Peran Lanang sebagai pahlawan pemberantas wabah penyakit hewan tiba-tiba dipertanyakan dan digugat dalam sebuah seminar Kehewanan Nasional. Selain itu rumah tangga Lanang pun diguncang prahara. Kehidupan Lanang berada dalam titik terendahnya. Secara intelektual dan emosional ia dihancurkan oleh sebuah konspirasi tingkat tinggi yang justru dilakukan oleh kolega-koleganya sendiri.

Sanggupkah Lanang bertahan, darimana dan apakakah sebenarnya burung babi hutan itu muncul? Layaknya sebuah novel misteri, semua misteri dan berbagai kejutan tak terduga akan tersaji di lembar-lembar terakhir novel ini.

Novel dengan keragaman tema

Novel yang dibuat oleh seorang dokter hewan sekaligus pecinta dan pelaku sastra ini memiliki keragaman tema. Ada soal cinta, seks, kemunfaikan, psikologis, dan isu-isu sosial yang menyangkut lingkungan kesehatan hewan dan bioteknologi. Secara psikologis karakter dalam tokoh-tokoh novel ini bisa dibilang menarik. Pada awalnya kita akan disuguhkan karakter Lanang sebagai dokter hewan yang berdedikasi, mencintai istrinya dan tampak taat menjalankan ritual agamanya. Namun Lanang bukanlah tokoh yang sempurna, sedikit demi sedikit kebusukan dan perilakunya yang aneh dan rapuh akan terungkap. Demikian juga dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Putri, istrinya, Dewi, teman seprofesinya, dan Rajikun di dukun hewan yang kontroversial. Semua tokoh-tokohnya membangun novel ini menjadi sebuah novel psikologis yang mengungkap sisi malaikat dan sisi iblis pada tiap manusia.

Tema lain yang menonjol dalam novel ini adalah mengenai lingkungan dunia kesehatan hewan. Tampaknya penulis menumpahkan semua pengetahuan akademisnya dan wawasan lingkungannya sebagai seorang dokter hewan pada novel ini. Seluk beluk mengenai dunia kesehatan hewan dikesplorasi dengan baik termasuk intik-intrik didalamnya dan berbagai konspirasi dalam dunia kesehatan. Dan yang paling menarik tentu saya soal rekayasa genetika. Akan terungkap bagaimana penggunaan zat-zat transgenik dalam pengolaan pakan hewan bagaikan pisau bermata dua, di satu pihak dapat memacu produktivitas hewan namun sekaligus bisa berdampak menimpulkan penyakit baru. Busuknya, hal ini ternyata disengaja agar produsen obat penangkalnya bisa memasarkan produknya dengan maksimal.

Dan hal yang lebih ekstrim lagi adalah akibat rekayasa genetika yang dicobakan pada hewan-hewan yang ada disekeliling kita. Misalnya bagaimana seekor monyet yang diberi gen ubur-bur akan membuat monyet tersebut berpendar dalam gelap, seekor babi yang memilik sayap setelah diberi gen seekor burung, atau pemberian gen manusia pada sapi perah agar dapat menghasilkan susu lebih banyak dan kandungan susu yang dihasilkan menjadi sama dengan ASI ! Semua itu akan terungkap dengan jelas pada novel ini.



Alur cerita

Novel yang ditulis dengan bahasa yang nyastra ini memiliki alur kisah yang tak terlalu cepat, kalimat-kalimat yang puitik dalam mendeskripsikan sesuatu tampaknya turut membuat alur kisahnya berada dalam kecepatan yang sedang-sedang saja.

Ketika membaca novel ini, pembaca akan diajak bagaikan menaiki sebuah roler coaster. Perlahan tapi pasti pembaca dibawa menaiki puncak ketegangan dari novel ini. Klimaksnya adalah dengan tertembaknya burung babi hutan ditangan dokter lanang.

Uniknya hal ini terdapat di pertengahan novel ini. Tentunya pembaca akan bertanya-tanya, kalau begitu kisah apa lagi yang akan ditemui di sisa halaman selanjutnya? Yang pasti setelah itu situasi kembali mengendur sesaat, pembaca akan diajak kembali menanjak menuju klimaks berikutnya yang berakhir di lembar-lembar terakhir novel ini.

Novel ini juga menyisipkan berbagai teka-teki dan misteri sehingga walau tak memiliki alur kisah yang cepat, hal ini dapat mengikat pembacanya untuk terus betah melahap novel ini hingga selesai guna mencari jawab semua teka-teki dan misteri yang terdapat dalam novel ini.



Novel yang menuai kritik dan pujian

Seperti telah diungkap diatas, novel ini ternyata menuai beragam tanggapan, baik yang positif maupun negatif. Yang memuji, umumnya mengacungkan jempol pada penulisnya karena keberaniannya menghadirkan tema mengenai rekayasa genetik, seluk beluk peternakan, dll yang merupakan wilayah yang jarang dibicarakan di sastra Indonesia.

Yang mengkritik, menyorot soal terlalu banyaknya deskripsi-deskripsi puitik yang mengganggu alur cerita, beberapa kejadian yang tidak masuk akal, hingga struktur kalimatnya yang dianggap berantakan.

Terlepas dari berbagai kritik atas novel ini, saya pribadi bisa menikmati novel ini hingga tuntas, bahkan banyak mendapat pencerahan melalui dialog-dialog seputar kesehatan hewan, bioteknologi, rekayasa genetik, kritik sosial, hingga intrik-intrik politik dunia kesehatan tanah air.

Dibalik pencerahan yang saya dapat memang ada beberapa hal yang mengganggu seperti beberapa puisi yang menurut saya mengganggu alur kisahnya, terutama di bagian ketika Lanang menumpahkan kekesalannya pada kolega-koleganya melalui kalimat-kalimat puisi sebanyak hampir 3 halaman ! Saya terpaksa melompati bagian ini karena sama sekali tak bisa menikmati puisi tersebut.

Sedangkan untuk peristiwa yang menurut saya ganjil adalah ketika Lanang digempur oleh rekan-rekannya dalam seminar Kehewanan Nasional. Umpatan-umpatan dan tuduhan yang ditujukan pada Lanang tampak terlalu berlebihan dan emosional sehingga tidak mencerminkan suasana sebuah seminar nasional yang dihadiri oleh ahli2 dokter hewan dari luar negeri.

Kehadiran sosok burung babi hutan sendiri saya rasa terlalu mengada-ngada dan agak sulit bagi saya untuk menghadirkan sosok tersebut dalam benak saya. Saya rasa dengan tema, pesan, dan muatan yang sama tak perlulah penulis menghadirkan sosok mahluk aneh dan terkesan mistis. Jika saja burung babi hutan digantikan dengan sejenis virus, seperti virus flu burung yang hingga kini masih menjadi momok di negara kita, pasti novel ini akan lebih membumi dan bermanfaat karena ada kesempatan bagi penulisnya untuk mengemukakan hal-hal baru mengenai virus ini.


Selain itu usaha ketika lanang akhirnya memperoleh suatu rumusan yang mencampuradukkan unsur bioteknologi, mistis, dan religi untuk memanggil burung babi hutan saya rasa terlalu berlebihan dan diluar nalar saya yang awam dengan kajian bioteknologi.

Nah, dibalik semua kelebihan dan kekurangannya tersebut, novel yang telah hadir dan menyemarakkan jagad sastra kita ini setidaknya memiliki nilai-nilai baik. Seperti yang ditulis oleh koran tempo, novel ini telah mengangkat satu isu yang sangat aktual, yaitu mengenai teknologi transgenik yang masih diwarnai perdebatan sampai sekarang, Selain itu terungkap pula tarik menarik antara kedokteran modern dangan pengobatan alternatif, hubungan suami istri, serta isu lingkungan.

@h_tanzil


ReviewReviewReviewReviewPetualangan Tintin - Cerutu Sang FiraunAug 4, '08 11:15 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Herge
Judul : Petualangan Tintin - Cerutu Sang Firaun
Penulis : Herge
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 64 hlm ; 22 cm

Diantara sekian banyak komik Tintin yang pernah saya baca, Cerutu Sang Pharaoh (Indira) atau Cerutu Sang Firaun (Gramedia, 2008) merupakan salah satu judul favorit saya. Saya pertama kali membacanya saat masih duduk di bangku SMP. Saya teratik dengan covernya yang menggambarkan Tintin dan Milo (Snowy) sedang mengendap-ngendap dalam sebuah makam lengkap dengan latar heliograf dan mumi yang berderet-deret. Saat itu, saya juga sangat tertarik dengan lambang / simbol sang Firaun yang terdapat di buku ini. Saking sukanya akan simbol tersebut, saya sering menggambarkan simbol sang firaun tersebut di buku-buku tulis saya semasa SMP.

Karenanya ketika Gramedia menerbitkan kembali seri petualangan Tintin, maka Cerutu Sang Firaun merupakan buku Tintin pertama yang saya beli setelah sebelumnya saya memperoleh 2 judul lain (Tintin di Soviet & Si Kuping Belah) secara gratis atas kebaikan Gramedia.

Di awal kisahnya, diceritakan Tintin bersama Milo sedang dalam perjalanan menuju Shanghai. Di atas kapal ia bertemu dengan Philemon Siclone yang mengaku memiliki manuskrip dengan simbol Firaun berupa peta lokasi kuburan Firaun Kih-Oskh yang hilang . Banyak ahli Mesir berusaha menemukannya, anehnya mereka semua hilang tak berbekas. Untuk itu Siclone mengajak Tintin bergabung untuk bersama-sama menemukan kuburan Firaun yang hilang itu.

Namun belum sampai tujuan, malam sebelum kapalnya berlabuh di Port Said, seseorang menjebak Tintin dengan memasukkan narkoba kedalam kabinnya. Tintin pun ditangkap dan dikurung dalam kabinnya oleh detektif kembar Dupond dan Dupont. Namun ketika kapal telah berlabuh di Port Said, Tintin dan Milo berhasil meloloskan diri.

Di Port Said Tintin bertemu kembali dengan Siclone dan akhirnya berhasil menemukan makan Sang Firaun yang hilang. Ketika Tintin memasuki ruang makam, betapa kagetnya karena ia menemukan para peneliti Mesir yang dikabarkan hilang telah menjadi mumi, dan yang lebih mengerikan lagi telah tersedia tiga sarkofagus kosong dengan nama Siclone, Tintin dan Milo.

Belum pulih dari rasa kagetnya, Tintin tiba-tiba terjebak dalam kuburan itu. Saat mencari jalan keluar, ia menemukan beberapa peti berisi cerutu dengan symbol Sang Firaun. Namun tiba-tiba kepalanya pusing dan iapun jatuh pingsan.

Apa yang terjadi pada Tintin, mengapa ada cerutu dalam makam sang Firaun?, Berhasilkah ia menemukan jalan keluar dan memecahkan misteri yang ia temui? Yang pasti dalam petualangannya kali ini kita akan diajak mengungkap sindikat perdagangan narkoba mulai dari Mesir, Arab, hingga India. Dan bak menonton film James Bond, kita akan disuguhkan petualangan baik di laut, darat dan udara.

Berdasarkan urutan kronologisnya, Cerutu Sang Firaun merupakan kisah ke 4 dari petualangan Tintin. Untuk pertama kalinya kisah ini dirilis pada tahun 1932. Di komik inilah untuk pertama kalinya pasangan detektif Dupond dan Dupont (Thomson & Thompson) muncul. Selain itu, Cerutu Sang Firaun juga menjadi pemunculan pertama Roberto Rastapopoulos, musuh abadi Tintin yg kerap tampil sampai beberapa episode berikutnya.

Ketika komik ini dibuat, penemuan makam Firaun sedang menjadi topik yang hangat sehingga mengilhami Herge untuk membuat kisah Tintin yang terperangkap dalam makam sang Firaun lengkap dengan hieroglif dan mummi. Bahkan Herge mencantumkan para peneliti yang dikenal telah meninggal secara misterius setelah melakukan ekspedisi makam-makam Firaun. Sedangkan untuk logo Firaun, nampaknya Herge mengadaptasi dari lambang Yin dan Yang sehingga jika diperhatikan akan ada kemiripam yang signifikan.

Seperti yang menjadi ciri khas komik petulangan Tinitin, dalam komik ini Herge menunjukkan berbagai akurasi gambar dengan kondisi sebenarnya seperti hieroglif pada makam Firaun, menara Port Said, pakaian tentara-tentara Arab, termasuk senapannya. Dan juga pesawat tempur DH-80 buatan Inggris, 1929. Selain itu penggambaran fisik bangsa India beserta kebudayaannya juga tersaji secara akurat. Semua itu menandakan bahwa Herge telah melakukan riset yang dalam untuk menghidupkan latar dalam tiap komik-komiknya.

Namun ada juga kejanggalan dalam judul ini, contohnya di halaman 15 Sheik Patrash Pasha terlihat menunjukkan sebuah buku komik Tintin yang berjudul ‘Perjalanan ke Bulan’. Padahal kisah Perjalanan ke Bulan baru dibuat dua puluh tahun kemudian setelah kisah Cerutu sang Firaun dibuat.

Menurut Tintinologist (situs resmi Tintin), kejanggalan tersebut dikarenakan komik Tintin telah berulangkali dilakukan revisi atau penggambaran ulang oleh Herge sendiri. Pada versi Petit Vingtieme, komik yang ditunjukkan Sang Pasha pada Tintin adalah komik “Tintin di Amerika”, sedangkan di edisi kedua yang diperlihatkan adalah ‘Tintin di Congo’. Hal ini juga disebabkan karena pembuatan/penerbitan Tintin versi warna yang memang tidak seusaui dengan urutan versi awalnya yang masih berupa komik hitam putih

Kisah petualangan Tintin dalam membongkar sindikat narkoba dalam Cerutu sang Firaun akan terus berlanjut dalam kisah Lotus Biru. Tak heran jika dalam Cerutu Sang Firaun belum terungkap secara jelas siapa otak mafia dibalik penyebaran narkoba yang disamarkan dalam bentuk sebuah cerutu bersimbol Sang Firaun.

@h_tanzil



ReviewReviewReviewVereeniging Toeristenverkeer Batavia (1908-1942)Jul 22, '08 11:10 AM
for everyone
Category:Books
Genre: History
Author:Achmad Sunjaya
Judul Buku : Vereeniging Toeristenverkeer Batavia (1908-1942)
Awal Turisme Modern di Hindia Belanda
Penulis : Achmad Sunjayadi
Penerbit : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI
Cetakan : Des 2007
Tebal : 143 hlm

Penelitian mengenai sejarah perkembangan turisme di Indonesia masih sangat jarang dilakukan. Belum banyak yang mengetahui bahwa perkembangan turisme modern di Indonesia diawali dengan dibentuknya sebuah perhimpunan turisme di Batavia pada 1908 yang bernama Vereeniging Toeristenverkeer (VTV).

Pengaruh VTV sebagai peletak dasar perturisan di Indonesia masih terasa hingga kini. Misalnya, beberapa obyek wisata yang diunggulkan dan cara-cara pemerintah Indonesia dalam mempromosikan obyek-obyek wisatanya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui VTV.

Apa yang mendasari terbentuknya VTV, bagaimana sejarah turisme modern berkembang di Indonesia, dan apa pengaruhnya bagi perkembangan kepariwisataan di Indonesia hingga kini? Semua jawaban atas pertanyaan diatas dapat ditemui pada buku ini yang sebenarnya diangkat dari tesis penulisnya dan telah dipertahankan di Program Studi Ilmu Sejarah Pascasarjana FIB UI.

Dalam buku ini dinyatakan bahwa turisme modern di Hindia Belanda pada awal abad ke-20 tidak terlepas dari perkembangan industri turisme di Eropa yang berkembang setelah industrialisasi menjelang pergantian abad. Selain itu dipicu pula oleh munculnya kelas masyarakat baru, yaitu kelas pengusaha yang memiliki penghasilan lebih dan ingin melepaskan diri sejenak dari kepenatan pekerjaan mereka.

Hindia Belanda yang pada masa itu merupakan salah satu koloni Belanda adalah salah satu tujuan para pelancong Eropa dan Amerika. Sebelum abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda melakukan pembatasan dan pengawasan kepada mereka yang hendak berkunjung ke Hindia Belanda. Ketertutupan ini menyebabkan Hindia Belanda menjadi wilayah yang misterius. Apa yang didengar oleh masyarakat Eropa tentang kehidupan di Hindia Belanda hanyalah berita mengenai wabah penyakit, bencana alam, perang antar suku, dan santet, namun keadaan seperti inilah yang justru semakin membangkitkan rasa penasaran para pelancong Eropa.

Barulah pada 1904 setelah Perang Aceh usai, pemerintah Hindia Belanda mulai membuka diri terhadap para pelancong Eropa. Jawa dianggap wilayah yang paling layak untuk dijadikan obyek yang memperlihatkan suatu wilayah yang telah dikuasai baik secara sosial, politik, ekonomi maupun budaya.

Karenanya pemerintah Hindia Belanda segera menjadikan wilayahnya sebagai daerah tujuan turisme. Hal ini ditandai dengan didirikannya perhimpunan turisme pertama Hindia Belanda yang dinamakan Vereeniging Toeristenverkeer (VTV) yang dibentuk dan diresmikan oleh Gubernur JenderaL Hindia Belanda, Van Heutsz pada tahun 1908.

VTV yang beranggotakan para pengusaha yang mempunyai hubungan dengan turisme (perusahaan transprotasi, perhotelan, pemilik toko, perbankan, dll) ini untuk pertama kalinya membuka kantornya di Batavia. Kantor ini bertugas untuk mempromosikan, memberikan informasi, dan membuat reklame turisme yang kemudian disebarkan baik di dalam maupun di luar negeri. Awalnya perhimpunan ini mengawali kegiatannya di Jawa, lalu meluas ke Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga ke kepulauan Maluku.

Secara rinci buku ini memuat bagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh VTV dan pemerintah Belanda dalam mempromosikan obyek-obyek wisata di Hindia pada masa itu. Pembahasan buku ini memiliki lingkup rentang waktu antara 1900-1942 dengan lebih memfokuskan pada masa peranan VTV (1908-1942). Tak hanya itu, masa sebelumnya, yaitu antara 1850-1908 juga dibahas untuk mengetahui kondisi turisme sebelum didirikannya VTV di Hindia Belanda.

Periode 1850 dipilih sebagai patokan awal pembahasan buku ini karena tahun tersebut merupakan tahun munculnya turisme modern di dunia yang dirintis oleh Thomas Cook. Sementara tahun 1942 dipilih sebagai berakhirnya obyek penelitian penulisnya karena berdasarkan sumber-sumber yang ada, turisme di Hindia Belanda terganggu akibat masuknya Jepang dan diperkirakan di masa ini VTV otomatis tidak berfungsi.

Buku ini disajikan dalam empat bab, selain prolog dan epilog. Pada bab I diurai situasi turisme di Hindia Belanda, dan kebijakan pemerintah dalam hal turisme, khususnya di Jawa sebelum dibentuknya VTV.

Pada bab II, diketengahkan alasan-alasan pembentukan VTV dan bagaimana struktur organisasi, kegiatan-kegiatan promosi dan analisa jumlah turis setelah terbentuknya VTV. Selain itu dibahas pula mengenai kendala-kendala yang dihadapi dalam mengelola turisme di Hindia Belanda.

Peran VTV dan perkembangan turisme modern di Hindia dianalisa pada bab III. Hal-hal yang dibahas adalah promosi turisme sebegai representasi kolonial, pergeseran daerah turisme dari Jawa ke Bali, pembukaan jalur penerbangan pertama, profil para turis yang datang serta obyek-obyek wisata yang disarankan untuk dikunjungi.

Di Bab IV akan dikemukakan hasil analisa pengaruh VTV terhadap turisme modern di Jawa, serta pengaruh dan akibat turisme modern terhadap para neo priyayi pribumi melalui pembentukan VTV lalu dikaitkan dengan citra ‘Indonesia’ yang dibentuk oleh perhimpunan turisme ini.

Ada banyak hal yang menarik yang akan kita temui dalam buku ini. Antara lain akan
terungkap bahwa daerah-daerah yang paling sering dikunjungi para turis pada masa itu adalah obyek alam dan budaya, seperti daerah pegunungan di Priangan, Tosari di Jawa Timur,dll. Selain itu candi-candi Buddha dan Hindu seperti Borobudur, Prambanan, dan Mendut, juga merupakan lokasi yang paling sering dikunjungi.

Selain keindahan panorama alam dan budaya, VTV juga menjual ‘keprimitifan’ penduduk pribumi. Sehingga di tahun 20-an ketika Jawa semakin modern maka daerah tujuan wisata dialihkan ke Pulau Bali yang saat itu dianggap masih ‘asli’ dan kuno dibanding Jawa.

Tari-tarian daerah juga menarik perhatian para turis, contohnya ketika pada tahun 1889 pemerintah Hindia Belanda ikut dalam pameran Exposition Universelle di Paris-Perancis. Paviliun Hindia Belanda menampilkan para penari dari Jawa. Pertunjukan ini mendapat sambutan yang hangat karena para pengunjung dapat menyaksikan secara langsung para penari yang ‘separuh telanjang’ (hanya menggenakan kain sebatas dada) di muka umum. ‘Ketelanjangan’ di muka umum di masa itu merupakan hal yang luar biasa karena sebelumnya mereka hanya bisa melihat melalui lukisan dan kartu pos dari negeri Timur.

Masih banyak hal-hal menarik yang akan kita temui dalam buku ini. Diluar bagian yang membahas struktur organisasi VTV, bahasan lain dalam buku ini pastinya akan menarik baik bagi para sejarahwan maupun para pembaca awam yang ingin mengetahui lebih banyak tentang sejarah dan kondisi turisme di Indonesia di jaman Hindia Belanda. Walau buku ini pada awalnya merupakan sebuah tesis namun tak berarti buku jadi rumit dan susah dimengerti. Saya pribadi yang tidak memiliki latar pendidikan sejarah dapat membaca dan menikmati buku ini hingga tuntas.

Hingga tulisan ini dibuat, buku ini baru dicetak dan beredar secara terbatas di lingkungan kampus Fakultas Ilmu Budaya – Universitas Indonesia dan tidak diperdagangkan. Mungkin sudah waktunya buku ini dibaca oleh masyarakat luas, terlebih para pemerhati dan praktisi turisme di Indonesia, karena mungkin baru buku inilah yang membahas sejarah turisme di Indonesia dalam kurun waktu tertentu secara komprehensif.

Selain itu seperti yang diungkap oleh penulisnya, apa yang tersaji dalam buku ini diharapkan dapat memperkaya mozaik historiografi tentang sejarah turisme di Indonesia yang masih sangat kurang. Selain itu, buku ini diharapkan dapat mendudukkan sejarah turisme sebagai bagian dari historiografi Indonesia, mengingat adanya anggapan bahwa turisme di Indonesia belum lama berkembang. (hal xvii).

Sedikit catatan jika buku ini kemudian dicetak dan diterbitkan untuk umum, tentunya perlu diperbanyak lagi ilustrasi-ilustrasinya baik berupa gambar maupun kisah-kisah pengalaman para pelancong ketika mengunjungi Hindia Belanda di masa itu. Walau berupa kisah-kisah perjalanan yang remeh temeh, namun hal tersebut akan membuat buku ini menjadi lebih menarik dan lebih hidup lagi.

Untuk halaman-halaman yang berisi foto-foto dari majalah atau brosur di tahun 30-40an tentunya jika disajikan secara berwarna akan lebih menarik. Cover buku berupa foto hitam putih kantor VTV di Batavia saya rasa sudah sangat pas dengan pokok bahasannya dan menghadirkan nuansa masa lampau seperti yang dibahas dalam buku ini.

Selain itu walau agak diluar cakupan pembahasan buku ini, mungkin perlu pula sedikit disinggung mengenai organisasi turisme pertama di Indonesia yang dikelola oleh para bumiputera yang mungkin tumbuh bersamaan atau merupakan kelanjutan dari VTV setelah perkumpulan ini praktis bubar ketika kedatangan Jepang dan kemerdekaan Indonesia.

Sedikit tentang penulis

Achmad Sunjayadi, lahir di Jakarta 11 Mei 1973. Lulus dari Program Studi Belanda FSUI 1996. Setelah bekerja sebagai pengajar bahasa Belanda dan mengikuti kuliah di Dutch Studies, Universitiet Leiden, Belanda, pada 2003 ia melanjutkan studi Ilmu Sejarah di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia dan lulus tahun 2006. Saat ini bekerja sebagai pengajar tetap di Program Studi Belanda FIB UI, dan beberapa tempat lainnya.

Tulisan-tulisannya kerap dipublikasikan di media-media cetak nasional, antara lain, Femina, Kompas, Seputar Indonesia, Ujung Pandang Express, de Volkskrat, dll. Karya-karya ilmiahnya juga telah dipublikasikan di berbagai jurnal dan media ilmiah.

Selain itu penulis juga telah menerjemahkan beberapa buku, antara lain Batavia Awal Abad XX – HCC Clockener Brousson (Komunitas Bambu, 2004), Lembah Kekal, Euwege Vallei: Sajak-sajak Sitor situmorang dalam bahasa Indonesia dan terjemahan bahasa Belanda (Komunitas Bambu & Kedutaan Besar Belanda, 2004), dan Melintas Dua Jaman: Kenangan tentang orang Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan, otobiografi Elien Utrecht. (Komunitas Bambu & NLPVF,2006)

Penulis juga aktif meresensi buku-buku bertema sejarah dalam blog bukunya : http://sunjayadi.com

@h_tanzil



ReviewReviewReviewLolitaJun 22, '08 11:59 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Vladimir Nabokov
Judul : Lolita
Penulis : Vladimir Nabokov
Penerjemah : Anton Kurnia
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : 529 hal

Novel Lolita adalah mahakarya Vladimir Nobakov (1899-1977), penulis kelahiran Rusia yang kemudian menetap di Amerika Serikat. Walau kini Lolita telah diakui sebagai salah satu karya sastra klasik dunia, novel ini sempat dilarang beredar dan ditolak oleh beberapa penerbit Amerika karena tema dan isinya dianggap tidak senonoh dan melanggar standar moral masyarakat pada zaman itu

Karena ditolak oleh beberapa penerbit Amerika, novel ini akhirnya diterbitkan untuk pertama kalinya dalam bahasa Perancis oleh Olympia Perss, 15 Sept 1955, penerbit Perancis yang biasa menerbitkan buku-buku serius dan beberapa buku ‘dewasa’.

Apa sebenarnya yang ditulis oleh Nobakov dalam novelnya ini? Novel Lolita yang diyakini mengandung elemen-elemen autobiografis Nobakov ini merupakan memoar seorang profesor bernama Humbert Humbert yang menuliskan petualangan cintanya bersama Lolita. Dalam bab pendahulaun dikisiahkan pada saat memornya diterbitkan, Humbert tewas dalam tahanan akibat penyakit jantung pada 1952. Memoar yang diberi judul “Lolita, ATAU Pengakuan Seorang Duda” ini akhirnya sampai ke tangan seorang editor yang kemudian menerbitkannya dengan judul Lolita. Dari memoar inilah cerita dalam novel ini bergulir.

Humbert Humbert adalah seorang terdidik yang lahir di Paris. Seperti umumnya pria remaja, gairah remajanya dilewatinya dengan menjalin cinta monyet dengan Annabel Leigh. Malangnya cintanya pada Annabel kandas karena kekasihnya meninggal akibat penyakit tipus. Menurut pengakuan Humbert kisah cintanya dengan Annabel inilah yang membuat dirinya mulai tertarik secara seksual kepada gadis-gadis kecil berusia 9 sampai 14 tahun yang disebutnya sebagai ‘peri asmara’ (nymphet).

Ketika beranjak dewasa gairahnya pada para peri asmara terus membuncah. Untuk menekan gairahnya ganjilnya ini Humbert akhirnya menikah dengan Vallerie gadis sepantarannya yang menurutnya memiliki gaya dan pesona seorang gadis kecil. Namun rumah tangganya ini tak berlangsung lama, Vallerie menghianatinya dan akhirnya merekapun bercerai.

Setelah bercerai, Humbert memutuskan berkelana ke Amerika. Jalan hidupnya menempatkan dirinya tinggal dalam sebuah pondokan di Ramsdale, New England. Di tempat inilah Humbert terkesiap melihat sosok Lolita, gadis berusia 12 tahun yang merupakan putri Charlote si pemilik pondokan. Humbert yang saat itu berusia tigapuluhan tak kuasa menahan gejolak asmara dan berahinya melihat Dolorez Haze atau Lolita, gadis kecil yang jelas merupakan ‘peri asmara’ baginya.

Demi mendapatkan cinta dan tubuh Lolita, Humbert rela menikahi Charlote, ibu gadis itu. Sempat terbesit niat jahatnya untuk membunuh Charlote. Namun keberuntungan seolah berpihak padanya. Charlote tewas dalam sebuah kecelakaan. Tanpa banyak menunggu, Lolita yang saat itu sedang mengikuti perkemahan bersama sekolahnya dijemput oleh Humbert dan dibawanya mengelilingi Amerika Serikat. Dan dimulailah petualangan cinta terlarang antara ayah dengan anak tirinya.
Novel ini menjadi menarik selain karena tema cinta terlarang antara ayah dan anak tirinya, Nabokov juga dengan deskriptif melukiskan nuansa psikologis tokoh-tokohnya dengan disertai penokohan yang kuat . Humbert yang berkepribadian rumit dan Lolita seorang pecinta kebebasan namun terkadang misterius. Dengan piawai Nabokov menggiring pembacanya untuk memahami kekuatan cinta seorang Humbert terhadap Lolita. Bagaimana keragu-raguannya ketika pertama kali berniat menyentuh tubuh anak tirinya, dan bagaimana Lolita melakukan tarik ulur dalam merespon cinta ayah tirinya.

Emosi pembaca akan dibawa pada rasa kasihan dan geram terhadap Humbert dan Lolita. Kasihan karena sesungguhnya Humbert adalah pribadi yang kesepian yang membutuhkan cinta. Geram karena gairahnya yang menggebu-gebu terhadap Lolita, kadang Humbert tak mempedulikan Lolita yang sedang sakit dengan tetap mencumbunya.

Bagi sebagian pembaca mungkin akan menganggap novel ini bukan novel yang cair dan mudah dimengerti karena Nabokov banyak mengeksplorasi kondisi kejiwaan dan lamunan-lamunan Humbert. Selain itu novel ini juga banyak menggunakan simbol-simbol yang baru akan dimengerti oleh pembacanya setelah melahap habis novel ini hingga lembar terakhir. Namun bagi sebagian pembaca lainnya justru hal-hal itulah yang membuat novel ini mengasyikan untuk dibaca hingga tuntas.

Meskipun bukan novel yang mudah dicerna, novel ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Agar dapat menikmati novel ini ada baiknya kita membacanya lebih ke pendekatan psikologis dibanding naratif sehingga kita bisa menikmati dan memahami gejolak jiwa Humbert yang sakit.

Menurut penerjemah novel ini, Anton Kurnia, yang dikenal sebagai cerpenis sekaligus penerjemah karya-karya sastra dunia. Nabokov memang menulis novelnya ini dengan menggunakan kalimat yang panjang-panjang dan sebagai besar berisi lamunan Humbert yang sakit jiwanya. Untuk itu Anton tak jarang harus memotong satu kalimat panjang dalam novel ini menjadi dua atau bahkan tiga kalimat agar lebih mudah dan tidak capek membacanya.

Hal itulah yang membuat Anton harus berjerih lelah untuk menghadirkan terjemahan yang baik. Menurut pengakuannya untuk menerjemahkan novel yang dalam edisi bahasa Inggrisnya setebal 300-an halaman ini, ia memerlukan waktu satu tahun hingga novel tersebut siap dicetak. “Ini terjemahan paling sulit dan paling lama yg saya tangani,: ini lebih berat dari les miserables (Victor Hugo)”, ungkap Anton. Namun walau sulit, Anton justru menikmati proses penerjemahannya ini, “Saya suka Lolita jadi saya ikuti terus liku-likunya”, imbuhnya.

Walau novel ini sempat menuai kontroversi tapi saya sendiri tak melihat ada sesuatu yang berlebihan dalam novel ini. Selain temanya yang tak lazim dalam standar moral masyarakat pada umumnya, rasanya tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Deskripsi pelampiasan gairah Humbert terhadap Lolita saya pikir masih dalam batas-batas keindahan sastrawi, masih kalah dengan beberapa novel-novel lokal yang terkesan lebih berani dalam mengurai adegan percintaan.


Yang pasti novel yang kini telah menjadi salah satu karya sastra klasik dunia, pada masanya pernah menjadi buku laris selama puluhan tahun. Karena kepopulerannya, Lolita sempat dua kali diangkat ke layer lebar (1962 & 1997). Berbagai pujian dianugerahkan kepada novel ini. BBC mendapuk Lolita sebagai novel terbaik sepanjang masa, Majalah Times menyatakan bahwa Lolita adalah salah satu diantara tiga novel paling berpengaruh di dunia.

Modern Library yang beranggotakan sejumlah pengarang, kritisi sastra dan itelektual ternama pada tahun 1998 melakukan pemilihan 100 novel terbaik abad ke dua puluh yang ditulis dalam bahasa Inggris. Pemilihan ini disusun berdasarkan peringkat. Lolita masuk dalam peringkat keempat dibawah Ullyses (James Joysce), The Great Gastsby (F.Scott Fizgerald), dan A Portrait Of The Artist As a Young Man (James Joyce).

Jadi tak ada alasan lagi untuk tidak membaca novel ini. Salut untuk Serambi yang telah menerjemahkan novel ini. Walau novel ini terlambat diterjemahkan lebih dari 50 tahun, namun tak ada kata terlambat untuk membaca sebuah karya sastra klasik dunia. Dan lagi apa yang diangkat oleh Nabokov dalam novel ini tampak masih relevan untuk masa kini. Jika kita mau menengok sekeliling kita, ada banyak Humbert-Humbert disekeliling kita baik yang secara terus terang maupun sembunyi-sembunyi.

Dan yang pasti seperti yang ditulis dalam novel ini ; “Lolita seharusnya membuat kita semua para orangtua, pekerja sosial, pendidik – meningkatkan wawasan dan kewaspadaan dalam menunaikan tugas membesarkan gernerai yang lebih baik dalam sebuah dunia yang lebih aman.” (hal 11)

@h_tanzil


ReviewReviewReviewPerjalanan AjaibJun 9, '08 10:37 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Kim Donghwa
Judul : Chicken Soup for The Soul – Perjalanan Ajaib
Genre : Graphic Novel / Komik
Gambar oleh : Kim Donghwa
Penerjemah : Prasasti Budiyanto
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2008
Tebal : 145 hal

Buku seri Chicken Soup for The Soul seakan tak pernah ada matinya. Sudah lebih dari 10 tahun ketika Jack Canfield dan Mark Victor Hansen mengumpulkan kisah-kisah nyata yang inspiratif dan menyentuh hati yang kemudian dirangkai dalam sebuah buku bertajuk Chicken Soup for The Soul. Setelah buku pertamanya sukses dipasaran, buku ini seolah tak dapat dibendung lagi. Jack Canfield & Victor Hansen melanjutkan proyeknya, hasilnya berpuluh-puluh tema buku dibawah judul Chicken Soup for The Soul terus diterbitkan dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia termasuk di Indonesia hingga kini.

Selain terus munculnya judul-judul baru, seri Chicken Soup juga telah diadaptasi kedalam novel grafis (komik) oleh komikus Korea, Kim Donghwa. Tahun 2006 terjemahan dua buah komik adaptasi Chicken Soup yang bertajuk “Hadiah Terindah” dan “Pelajaran Berharga” diterbitkan oleh Gramedia. Kabarnya komik ini laris manis di pasaran sehingga kini terbit pula komik ketiga Chicken Soup dengan judul Perjalanan Ajaib (2008) yang diadaptasi dari A 2 nd Helping of Chicken Soup fot The Soul & A 3 rd Serving of Chicken Soup for The Soul.

Perjalanan Ajaib yang dijadikan judul novel grafis ini merupakan kisah seorang editor yang dalam sebuah kunjungannya ke sebuah desa terpencil menemukan sebuah toko buku bekas. Secara tak diduga di toko buku tersebut ia menemukan sebuah buku kesayangannya yang dulu pernah diloakkan ke penjual buku bekas.

Ia merasa seperti bertemu dengan teman masa kecil secara tak terduga. Terbesit keinginan untuk membelinya kembali, tapi ia kemudian menyadari bahwa buku tersebut mungkin telah berganti pemilik beberapa kali, dan kisah dalam buku itu telah menyentuh beberapa pembacanya. Jika ia membeli kembali buku itu, maka perjalanan buku tersebut akan terhenti. Jadi ia membiarkan buku tersebut melanjutkan perjalanan untuk menyentuh hati pembaca-pembaca lainnya

Selain itu ada pula kisah berjudul Pelajaran dari Angsa, dimana dikisahkan perilaku rombongan angsa yang terbang untuk berpindah tempat karena perubahan musim. Dalam perjalanannya jika ada seekor angsa sakit dan tak bisa terbang, maka dua ekor angsa lainnya akan mendampingi angsa yang sakit itu, melindungi dan menolongnya mendarat di tanah sampai angsa itu dapat terbang lagi. Jika angsa yang sakit itu sekarat, dua angsa itu akan menunggu dan baru akan bergabung dengan kawanan angsa lainnya jika angsa yang sakit itu mati.

Masih banyak kisah-kisah menarik lainnya tentang kebaikan dan ketegaran hati yang menghiasi halaman-halaman buku ini. Tak perlu banyak komentar akan buku ini. Yang pasti selain ketigabelas kisah-kisahnya yang menyentuh dan isnspiratif, mata pembaca juga akan dimanjakan dengan sapuan warna dan gambar Kim Donghwa yang sangat indah.

Karena bentuknya komik berwarna dan digambar dengan gaya komik-komik jepang atau korea pada umumnya, serta cover yang samangat menarik, tak heran buku ini akan menarik perhatian anak-anak untuk membacanya. Kisah-kisahnya pendek-pendek, untuk satu kisah hanya diperlukan 5-12 halaman dengan panel-panel gambar yang dinamis dan teks-teks dalam balon percakapan yang tidak terlalu panjang, karenanya bukan mustahil anak-anakpun bisa memahaminya.

Yang pasti, komik Chicken Soup for The Soul – Perjalanan Ajaib ini dipilih oleh anak saya Sherine (7 tahun) ketika ia diajak ke toko buku. Ternyata dia bisa menikmati buku yang dipilihnya ini. Memang ada kisah-kisah yang tidak dimengerti maknanya, jika demikian tentunya saya akan membantunya untuk memahami buku ini.

Karenanya tak berlebihan jika komik Chicken Soup ini bisa kita jadikan sebagai bacaan yang membangun jiwa bagi anak-anak kita. Seperti Sherine tentunya tak semua kisah bisa dipahaminya, namun tugas kitalah sebagai orang tua untuk membimbingnya dalam memahami apa makna dibalik kisah-kisah yang menyentuh dan inspiratif ini.

@h_tanzil



ReviewReviewReviewPangeran KaspianJun 1, '08 12:02 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:CS Lewis
Judul : Chronicles of Narnia : #4 Pangeran Caspian
Penulis : C.S. Lewis
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, cet-I 2005
Tebal : 280 hal ; ilustrasi ; 18 cm
ISBN : 979-22-1641-3


Peter, Susan, Edmund & Lucy baru saja menyelesaikan liburan sekolah mereka. Keempat anak itu sedang duduk di stasiun kereta api dengan koper-koper dan kotak mainan tertumpuk disekeliling mereka. Mereka hendak menuju kembali ke sekolah.

Tiba-tiba sesuatu yang tak nampak menarik keempat anak itu dengan kuat. Lalu koper-koper, bangku, peron, dan stasiun menghilang dan tiba-tiba keempat anak itu menemukan diri mereka berada di tengah hutan lebat. Mereka tersedot kedalam dunia Narnia!

Waktu Narnia dan dunia tidaklah sama, sejak kunjungan pertama mereka ke Narnia (The Lion, the Wtich, and the Wardrobe – Gramedia,2005), waktu di Inggris baru berlalu satu tahun, namun di Narnia waktu telah berlalu beberapa ratus tahun lamanya.

Kini Narnia diperintah oleh Raja Miraz yang kejam. Miraz menjadi raja setelah membunuh Raja Caspian IX, putranya Caspian X diasuh oleh Raja Miraz dan Ratu Prunaprisma yang saat itu belum memiliki anak. Dari inang pengasuhnya, Pangeran Caspian mendengar kisah-kisah Narnia kuno yang sebenarnya dilarang diceritakan oleh Miraz. Raja Miraz khawatir kisah masa lalu Narnia akan mengungkap kejayaan Narnia masa lampau yang diperintah oleh dinasti Caspian sehingga membangkitkan semangat pangeran Caspian untuk mengembalikan dinasti keluarganya sebagai raja Narnia

Walau inang pengasuh sudah dipecat oleh Raja Miraz, pangeran Caspian dapat tetap mendengar kisah-kisah kejayaan masa lampau Narnia dibawah dianasti Caspian melalui gurunya Dr. Cornelius.

Ratu Prunaprisma akhirnya melahirkan seorang anak. Kini Raja Miraz memiliki putera mahkota. Timbulah niat jahat Miraz untuk membunuh Pangeran Caspian. Mencium gelagat itu Dr. Cornelius membantu Pangeran Caspian untuk melarikan diri dengan membekalinya dengan sekantung emas dan sebuah terompet ajaib yang bisa digunakan jika Pangeran Caspian berada dalam bahaya besar.

Dalam pelariannya Pangeran Caspian bertemu dengan penghuni asli Narnia yang terdiri dari hewan yang bisa berbicara, faun, drawft, dan lain-lain. Beberapa mahluk mencurigainya namun sebagian besar mendukungnya dan mereka bersiap merebut kerajaan Narnia dari tahta Miraz yang lalim.

Untuk menangkap Pangeran Caspian, Raja Miraz mengerahkan pasukan untuk mengejarnya. Peperangan antar pasukan Miraz dan pendukung Pangeran Caspian tak terhindarkan. Tak cukup kuat menahan gempuran pasukan Miraz, dalam keadaan terdesak Pangeran Caspian segera meniup terompet ajaibnya. Oleh tiupan terompet itulah keempat anak Pevensie (Peter, Susan, Edmund, Lucy) yang pernah menjadi Raja Narnia dimasa lampau tersedot kembali ke Narnia.

Peter, dan ketiga saudaranya lambat laun mengerti mengapa mereka kembali ke Narnia. Bersama Aslan, sang singa agung, dan penduduk asli Narnia, keempat bersaudara ini membantu Pangeran Caspian bertempur melawan pasukan Raja Miraz dan mengembalikan kejayaan Narnia yang pernah diperintah oleh Dinasti Caspian.

Buku Pangeran Caspian merupakan buku keempat dari tujuh buku dalam seri The Chronicles of Narnia karya CS. Lewis, terbit pertama kali pada tahun 1951, tepat setahun setelah The Lion, the Witch, and The Wardrobe (1950) terbit. Jadi walau secara kronologis cerita buku ini merupakan buku keempat dari seri Narnia namun dilihat dari urutan terbitnya buku ini merupakan buku kedua dari seri Narnia yang ditulis CS. Lewis.

Sama seperti judul-judul lainnya dalam seri The Chronicles of Narnia , kisah Pangeran Caspian ini menyuguhkan peristiwa-peristiwa menakjubkan yang terjadi di negeri Narnia lengkap dengan hewan-hewan yang bisa berbicara, peristiwa-peristiwa ajaib dan kisah petualangan yang menggairahkan pembacanya.

Kepiawaian Lewis dalam menyuguhkan cerita yang mendidik namun menakjubkan inilah yang menyebabkan setiap judul dari seri The Chronicles of Narnia senantiasa menjadi kisah yang menyenangkan dibaca bagi para anak-anak remaja namun tetap memikat bagi pembaca di segala usia.

Menyusul suksesnya pembuatan film The Chronicles of Narnia : The Lion, the Witch, and The Wardrobe (2005), Walden Media telah membuat sekuel dari filmnya ini (The Chronicles of Narnia : Princes Caspian, 2007) dan kini sedang diputar di bioskop-bioskop dunia termasuk Indonesia. Sebelumnya, pada tahun 1989 BBC juga pernah membuat film Princes Caspian dalam bentuk mini seri.

@h_tanzil



ReviewReviewReviewReviewBuddhaMay 26, '08 12:03 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Deepak Chopra
Judul : Buddha
Penulis : Deepak Chopra
Penerjemah : Rosemary Kesauly
Editor : Hetih Rusli
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : April 2008
Tebal : 400 hlm ; 20 cm


Siddharta Gautama adalah salah seorang tokoh sejarah yang juga dikenal sebagai pendiri salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia hingga kini. Melalui dirinya yang telah mengalami pencerahan sejati, ia mengajar dan melahirkan sebuah keyakinan yang kini disebut agama Buddha.

Bagi para penganutnya riwayat hidup pangeran Siddharta yang kemudian menjadi Sang Buddha tentu sudah hafal diluar kepala. Namun bagi sebagian lainnya riwayat hidup Sang Buddha mungkin hanya mereka ketahui secara singkat lewat pelajaran agama di sekolah-sekolah.Kini riwayat hidup Buddha secara detail dapat kita baca melalui novel karya Deepak Chopra, dokter dan spiritualis yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi guru spiritual selebriti Hollywood.

Chopra membuka novelnya ini dengan adegan Raja Suddhonata (ayah Siddharta) yang sedang berperang melawan musuhnya. Pada saat yang sama, Ratu Maya, permaisuri Suddhonata ditandu melintasi hutan Lumbini. Ia sedang mengandung sepuluh bulan dan berniat melahirkan di kampung halaman orang tuanya. Belum sampai di tujuan, ditengah hutan Lumbini, saat bulan mulai bersinar terang lahirlah seorang putra yang sudah dinanti-nantikannya. Dinamainya putranya itu dengan nama Siddharta.

Layaknya seorang raja yang menginginkan anaknya agar menjadi penerus tahta kerajaannya, begitupun dengan Suddhonata, ia menginginkan Siddharta kelak menjadi penggantinya. Namun oleh Asita, seorang petapa, Siddharta diramalkan tidak akan menjadi raja agung yang berkuasa atas rakyatnya melainkan ia ditakdirkan untuk ‘menguasai jiwanya sendiri’

Suddhonata berniat mengubah takdir Siddharta, ia meminta bantuan Canki, pendeta istana. Canki menyarankan agar selagi muda Siddharta digembleng untuk menjadi seorang raja besar dan tak boleh keluar dari dinding-dinding istana. Siddharta tak diizinkan melihat penderitaan, penyakit, kemiskinan, orang-orang tua yang lemah, dll. Karenanya lingkungan istana terbebas dari hal-hal itu. Orang-orang yang sakit, tua dan menderita diusir dari istana dan dibuang ke sebuah desa yang terisolasi.

Siddhartapun hidup terkukung dalam istana mewahnya. Ia digembleng oleh ayahnya untuk menjadi seorang raja, namun lambat laun sikap Siddharta tak sesuai dengan sikap seorang calon raja seperti yang diinginkan Suddhonata.

Usaha membelokkan takdir Siddharta tak hanya berasal dari ayahnya, melainkan dilakukan juga oleh Mara, sang Iblis yang semenjak Siddhara lahir selalu mencoba menghancurkan mental Siddharta agar tak menjalani takdirnya. Baik secara langsung maupun meminjam tangan Devadatta, sepupu Siddharta yang ambisiun dan keji, Mara mencoba membelokkan takdir Siddharta.

Takdir tak dapat dilawan, walau telah memiliki istri dan seorang anak, Siddharta akhirnya meninggalkan istana dan keluarganya untuk menjadi seorang petapa guna mencari darma dan pencerahan batin. Ia mengganti namanya menjadi Gautama. Apa yang dijalaninya ternyata tak mudah, ia harus mencari guru yang membimbingnya. Beberapa petapa menjadi gurunya, namun tak satupun yang memberinya jawaban atas apa yang dicarinya.

Pencariannya tak mudah. Bayang-bayang kenikmatan hidup masa lalunya sebagai seorang pangeran sempat menghantuinya. Mara, sang iblis selalu menggodanya. Berbagai peristiwa yang dialami selama masa pencariannya ini membuatnya hampir menyerah.

Akhirnya Siddharta bergabung dengan lima orang pertapa yang kelak akan menjadi pengikut setianya ketika ia telah menjadi Buddha. Siddhara akhirnya sanggup melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawinya, ia mengalahkan iblis, hingga akhirnya menemukan jawaban atas apa yang dicarinya yaitu mencapai pencerahan sejati dan menjadi seorang Buddha.

Di novel ini riwayat hidup Buddha dibagi dalam tiga fase hidupnya ; Siddharta sang Pangeran, Gautama sang Pertapa, dan Buddha yang penuh belas kasih. Deepak Chopra tampak setia terhadap fakta sejarah dan alur riwayat kehidupan Buddha seperti yang telah diketahui oleh umum. Chopra hanya mengisi kekosongan periode-periode kehidupan Buddha yang tidak dicatat dalam lontar-lontar kuno dan prasasti-prasasti.

Jika mungkin selama ini kita mengenal Buddha sebagai tokoh damai dan bersahaja, namun melalui imajinasi Chopra kisah hidup Buddha dideskripsikan penuh dengan cerita cinta, seks, pembunuhan, kehilangan, perjuangan, dan penyerahan diri.

Tampaknya Chopra mencoba mengambarkan Buddha keluar dari kabut waktu, dan menonjolkan Buddha secara lebih manusiawi dan membumi. Tak seperti Pramoedya yang melucuti legenda Ken Arok dari unsur-unsur mistis dan tahayulnya (Arok Dedes, Hastma Mitra 2000), Chopra tetap mempertahankan unsur mistis dan supranatural secara wajar dan tak berlebihan. Selain itu selubung misteri dan sisi agung Buddha tetap dipertahankan sehingga bagi para penganutnya novel ini tampaknya tetap bisa diterima sebagai bacaan alternatif dari riwayat Sang Buddha.

Mengisahkan Buddha tentunya tak bisa lepas dari ajaran-ajarannya. Semula saya menyangka novel ini akan sarat dengan kalimat-kalimat filosofis, apalagi nama Deepak Chopra yang dikenal sebagai seorang spiritualis membuat saya awalnya sedikit berjarak dengan novel ini karena khawatir akan susah dimengeri dan membosankan.

Namun kekhawatiran itu ternyata tak beralasan. Chopra mengisahkan riwayat Buddha secara menarik dan enak dibaca. Kalaupun ada kalimat-kalimat filosofis, Chopra menyajikannya dalam porsi yang pas dan menyatu dalam alur kisahnya. Membaca novel ini sama asiknya dengan membaca novel-novel sastra pada umumnya.

Selain itu, di novel ini potret kehidupan masyarakat dan budaya India di tahun 563 SM tampak terdeskrisi dengan baik. Mulai dari upacara pembakaran jenazah, kehidupan di istana, pemilihan jodoh pangeran, hingga kehidupan seorang petapa dan sikap masyarakat terhadap para petapa tersaji dengan menarik dan informatif

Terjemahan yang enak dibaca, cover yang menarik dan pilihan jenis kertas yang tidak silau dan ringan membuat novel setebal 400 halaman ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Sebagai pelangkap, di bagian epilog dan akhir buku ini Chopra mencoba memberikan penjelasan-penjelasan mengenai ajaran Buddha. Karenanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa novel ini dapat menjadi pintu masuk bagi mereka yang ingin mengenal dan memahami ajaran Buddha.

Mungkin ada hal-hal yang tidak tepat dalam mendiskripsikan Buddha menurut imajinasi Chopra, namun karena buku ini sebuah karya fiksi, marilah kita menikmatinya secara sastrawi. Ajaran-ajaran Buddha yang universal yang terdapat dalam novel ini tentunya dapat memberi kita inspirasi dan menutun kita lebih dekat menuju pemahaman hidup dan bagaimana kita menjalani hidup ini dengan lebih baik lagi bagi Tuhan dan sesama manusia.

@h_tanzil



ReviewReviewReviewReviewTintin di Tanah SovietMay 19, '08 11:52 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Herge
Judul : Petualangan Tintin - Wartawan “Le Petit Vingtieme” Tintin di Tanah Soviet
Penulis : Herge
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : April 2008
Tebal : 142 hlm

Komik ini merupakan kisah pertama petualangan Tintin selaku wartawan “Le Petit Vingtieme” yang dibuat oleh Herge. Dari petualangan pertamanya di Ruisa inilah kelak komik seri Petualangan Tintin terus dibuat hingga mencapai 24 kisah yang mengajak pembacanya berkelana ke berbagai belahan dunia sambil menyelidiki bebragai kasus menarik bersama anjing setianya, Milo(Snowy) dan beberapa sahabatnya seperti Kapten Haddock, Thomson & Thompson, Prof Calculus, dll.

Dalam petualangan pertamanya ini Tintin diberit tugas untuk meliput keadaan di Soviet, negeri komunis yang sedang gencar-gencarnya mempropagandakan kemajuannya ke seluruh dunia. Rencana mengirim Tintin ke Soviet tampaknya telah tercium oleh agen-agen komunis Soviet.

Belum sampai Tintin tiba di Soviet, kereta api yang membawanya disabotase oleh seorang agen Soviet. Tintin selamat, namun ia ditahan oleh polisi Jerman dengan tuduhan merusak 10 gerbong dan menghilangkan 218 orang. Dengan kecerdikannya Tintin berhasil melarikan diri dan melalui kejar-kejaran yang seru dengan polisi Jerman akhirnya Tintin sampai di Stolbtzy, perbatasan Soviet.

Sesampai di Stolbtzy, ia kembali diketahui keberadaannya oleh agen Soviet. Berkali-kali Tintin harus menghadapi agen-agen Soviet yang mencegahnya memasuki Soviet, namun lagi-lagi berkat kecerdikan dan keberuntungannya, Tintin berhasil meloloskan diri dan sampai si Moskow.

Sesampai di Moskow Tintin tak luput dari kejaran agen rahasia Soviet yang ingin menghabisi nyawanya. Berkali-kali Tintin tertangkap, namun berkali-kali juga Tintin meloloskan diri hingga akhirnya ia menemukan bunker tempat persembunyian Lenin, Trotzky, dan Stalin. Apa yang Tintin temui, dan berhasilkah ia akhirnya keluar dari Soviet dan menuliskan laporannya untuk koran dimana tempatnya bekerja? Jawabannya tentunya akan kita temui di komik hitam putih setebal 141 halaman ini.

Komik hitam puith ??? bukankah ciri khas komik Tintin justru teletak pada paduan warnanya cerah dan menarik? Seperti telah diungkap diatas, kisah Tintin di Soviet adalah petualangan pertama Tintin yang dibuat oleh Herge pada 1929. Dan memang saat itu Tintin masih berupa komik hitam putih dimana gambarnya masih belum terlihat sempurna dan detail. Sepintas mirip sebuah sketsa. Wajah Tintinpun dibuat nyaris tanpa ekspresi, kecuali hidung pentul dan tiga buah titik hitam untuk melukisan mata dan mulut. Yang tetap sama adalah jambul khasnya yang legendaris.

Panel-panel gambarnya masih sangat konvensional, setiap halaman berisi 3 hingga 6 buah panel gambar. Alur kisah dan logika komik inipun berbeda dengan kisah-kisah Tintin selanjutnya. Selain kisah yang lebih panjang (141 hal) di komik ini kitapun akan menemukan adegan-adegan splastis yang berlebihan seperti tertabrak kereta api, tercebur di danau es tapi tetap selamat, dll, dan faktor-faktor kebetulan yang membuat sebuah peristiwa terselesaikan dengan sangat mudah.

Tak banyak yang tahu, sebenarnya hampir sebagian besar komik Tintin dibuat hitam putih seperti judul ini. Hingga akhirnya Herge merevisi, menggambar ulang,
menambah/ mengurangi panel, dan memberinya warna pada seluruh komik
Tintin, kecuali Tintin di Soviet yang dibiarkan apa adanya. Entah apa alasan Herge tak merevisi dan memberi warna judul ini. Mungkin sebagai monument bagi dirinya dan pembaca setia Tintin bahwa seperti inilah Tintin pertama kali dibuat.

Dalam komik ini kita akan melihat bagaimana Herge muda tampak begitu membenci Soviet dengan ideologi komunisnya. Di komik ini kita akan melihat bagamina Soviet saat itu begitu tertutup terhadap kehadiran wartawan asing seperti Tintin. Soviet hanya membuka diri pada wartawan luar negeri yang menganut ideologi komunis.

Kepada merekapun Soviet melakuka propaganda palsu yaitu dengan membuat seolah-olah pabrik-pabrik sedang berprodusi dengan gencar, namun ketika Tintin berhasil menyusu kedalam pabrik, ternyata di dalamnya hanyalah orang yang memalu besi sehingga menimbulkan kesan suara mesin yang berproduksi. Atau ketika Tintin menemukan bagaimana kader-kader partai komunis melakukan pemilu curang dengan memaksa rakyat Soviet memilih partai komunis dibawah ancaman senjata.

Walau kisah ini penuh dengan satire politik dan mengusung semangat anti komunis. Namun tak berarti kisah ini tidak bisa dinikmati oleh anak-anak. Adegan kejar-kejaran antara Tintin dan pihak dinas rahasia soviet serta adegan-adegan splastis yang lucu dipastikan membuat anak-anak yang membacanya tertarik untuk membaca tuntas komik ini.

Sejarah Penerbitan

Tintin di Tanah Soviet / Tintin au Pays des Soviets pertama kali muncul sebagai komik berseri di suplemen kartun Le Petit Vingtieme terbitan koran Brussel Le Vingtieme Siecle, pada tangga 20 January 1929 hingga 11 May 1930. Pertama kali diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1930. Di akhir tahun 1960an komik ini diterbitkan ulang masih dalam bentuk aslinya (hitam putih).

Di Indonesia sendiri komik ini baru terbit pada tahun 1995 oleh penerbit Indira dan dicetak ulang pada tahun 2005. Kini setelah hak cipta dan hak edarnya diambil oleh penerbit Gramedia, Tintin di Tanah Soviet kembali hadir kembali bagi pembaca Indonesia dan judul ini menjadi urutan pertama seri Tintin yang diterbitkan oleh Gramedia.

Gramedia memang berencana menerbitkan seluruh seri Tintin sesuai dengan urutan yang dibuat oleh Herge termasuk menerbitkan karya terakhir Herge yang belum sempat diselesaikannya dan belum pernah diterbitkan di Indonesia : Tintin dan Alpha Art.

@h_tanzil


ReviewReviewReviewReviewPetualangan Tintin - Si Kuping BelahMay 5, '08 11:29 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Herge
Judul : Petualangan Tintin – Si Kuping Belah
Penulis : Herge
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : April 2008
Tebal : 62 hal
Harga : Rp. 40.000,-

Begitu tersebar gosip kalau komik Tintin akan dicetak ulang oleh Gramedia, saya langsung bersorak kegirangan!. Bagaimana tidak, komik Tintin merupakan komik favorit saya semasa SMP yang waktu itu Tintin masih diterbitkan oleh Indira. Komik Tintin yang dilukis dengan garis-garis yang bersih, dengan warna yang cerah, dan cerita yang seru serta lucu membuat saya selalu melahap habis setiap judul seri tintin yang terbit.

Hanya saja, karena waktu itu belum punya uang sendiri, jadi sebagian besar Tintin yang saya baca adalah hasil pinjam di tempat persewaan buku. Saya sendiri hanya punya beberapa judul saja, itupun kini sudah hilang entah kemana dan hanya menyisakan satu judul (Rahasia Racham Merah) yang masih tersisa.

Setiap pergi ke toko buku dan melihat Tintin terbitan Indira rasanya gatal untuk membelinya, namun keinginan itu selalu dikalahkan untuk membeli buku-buku lain, alasan lain karena saya merasa komik Tintin semakin mahal namun kualitas cetaknya semakin menurun. Tampaknya hal itu akibat dari musibah kebakaran di Penerbit Indira beberapa tahun yang lampau. Seluruh master plat Tintin ikut terbakar. Kabarnya agar dapat terbit ulang, Indira melakukan scan dari komik tintin yang telah dicetak ulang. Itulah yang menyebabkan kualitas gambar tintin cetakan tahun 2005 terlihat kurang kinclong.

Bersyukur kini komik Tintin diterbitkan ulang oleh Gramedia yang tampaknya semakin serius menebitkan komik-komik bermutu. Karena kebaikan Gramedia yang rajin memberikan buntelan buku gratis untuk saya dan beberapa book bloger lainnya, saya kini memiliki 2 buah Tintin terbitan Gramedia yaitu Si Kuping Belah dan Tintin di Soviet. Karena saya baru membaca si Kuping Belah, maka saya baru akan mereview judul tersebut.

Dalam petualangannya kali ini, kita diajak berpetualangan hingga ke pedalaman Amerika Selatan. Tintin ditugasi untuk menyelidiki raibnya patung langka suku Arumbaya yang dipamerkan di museum Etnografi Perancis. Walau esoknya patung itu kembali berada di museum namun berkat pengamatan Tintin yang jeli, terbukti bahwa patung yang telah berada kembali di museum tersebut adalah palsu karena patung yang asli memiliki kuping yang belah.

Untuk memperoleh kembali patung tersebut Tintin menyeberang ke Amerika, belum sampai di tujuan ia terjebak di Las Dopicos, ibukota republik San Theodoros Amerika Selatan . Tintin terperangkap dalam kemelut revolusi antar penguasa di negara tersebut. Ia nyaris dihukum mati karena dituduh mata-mata dan menjual senjata pada pihak musuh. Hal ini tentu saja menghambat tujuan utamanya untuk memperoleh kembali patung asli suku arumbaya yang hilang.

Seperti biasa petualangan tintin selalu seru, tak terduga, dan dihiasi dengan adegan-adegan lucu yang membuat pembacanya terpingkal-pingkal. Begitupun dengan judul ini, walau tanpa kehadiran Kapten Haddock, dan hanya memunculkan Dupond & dupont (Thomson & Thompson) di awal cerita, kelucuan petualangan tintin tetaplah terjaga.

Tintin Rasa Baru

Hingga tulisan ini dibuat Gramedia telah menerbitkan 6 buah judul tintin al :
1. Petualangan Tintin Wartawan "Le Petit Vingtieme" di Tanah Sovyet
2. Tintin di Congo
3. Tintin di Amerika
4. Cerutu Sang firaun
5. Lotus Biru
6. Si Kuping Belah

Entah berdasarkan apa Gramedia menerbitkan terlebih dulu judul-judul tersebut, yang pasti kehadiran Tintin terbitan GPU benar-benar disambut antusias para pecinta Tintin. Menurut sebuah sumber, keenam judul yang baru beredar satu bulan ini, semuanya telah mengalami cetak ulang dan tirasnya naik dari 5000 menjadi 7000 eks per judul. Kabarnya juga Laut Hitam dan Tongkat Ottokar akan terbit di bulan Mei ini.

Lalu apakah yang membedakan Tintin versi Indira dengan versi Gramedia ? Karena saya baru memiliki Tintin versi Gramedia yang berjudul Si Kuping Belah dan Tintin di Tanah Soviet. Maka perbandingan ini berdasarkan dua judul saja.

Secara format ukuran buku, jelas berbeda, jika Tintin terbitan Indira dicetak diatas ekrtas HVS dengan ukuran majalah dengan tebal 62 hal, maka tintin versi Gramedia dicetak diatas kertas art paper / kunstruk dengan ukuran lebih kecil dengan tebal 64 halaman, (142 hal u/ tintin di Soviet).

Otomatis dengan mengecilnya ukuran bukunya, maka gambar-gambarnyapun ikut mengecil, hanya saja kini Tintin lebih ‘handy’ dan lebih mudah dibawa masuk kedalam tas dibanding terbitan Indira. Secara psikologis, dengan perubahan ukuran dan jenis kertas ini membuat harga komik tintin yang dijual seharga Rp. 40.000,- terkesan wajar.

Selain gambar tentu saja huruf baik di box deskripsi maupun huruf di balon percakapan menjadi mengecil. Dan yang terasa mengganggu adalah font huruf di balon percakapan. Selain kecil-kecil, jenis font yang menggunakan huruf italic membuat semakin sulit membacanya. Mungkin perlu dicarikan jenis huruf yang lain agar lebih ramah mata.

Karena kini Tintin diterjemahkan ulang, maka terlihat perbedaan kalimat dibanding terbitan Indira, terlebih dalam hal nama-nama tokoh-tokohnya. Untuk nama-nama tokoh-tokohnya, Gramedia setia pada nama asli yang tercantum di edisi aslinya yang berbahasa Perancis. Beberapa nama tokoh yang berubah antara lain :

- Snowy = Milo
- Thomson Thompson = Dupond & Dupont
- Calculus = Lakmus

Mungkin awalnya akan terasa mengagetkan dan janggal. Kita yang terlanjur akrab dengan sebutan snowy kini harus terbiasa dengan ‘milo’. Dan yang membuat saya penasaran, adalah bagaimana Gramedia akan menjermahkan umpatan terkenal kapten Haddock seperti , “Sejuta topan Badai!”, bagaimana terjemahan barunya? Kita lihat saja dan tunggu kemunculan Kapten Haddock di seri-seri Tintin yang akan diterbitkan.

Tampaknya seri Tintin dengan tampilan baru ini akan membuat seri petualangan Tintin yang pernah terkenal di indonesia di era 80-90an kembali memikat generasi baru pembacanya. Setelah lama menghilang dan hanya dapat dicari di beberapa tempat dan kios-kios buku bekas, kini Tintin yang telah diterjemahkan kedalam 40 bahasa dunia ini kembali bakal mudah diperoleh di toko-toko buku besar dan siap menjadi idola baru bagi pembaca komik bermutu.

Bisa dibilang PETUALANGAN TINTIN adalah tonggak bersejarah dalam dunia komik internasional.
Melalui kisah-kisah petualangan Tintin dan kawan-kawannya, kita bukan hanya diajak keliling dunia, tapi juga dibawa menelusuri sejarah serta politik sejak tahun 1940-an sampai 1980-an. Namun muatan sejarah dan politik itu tidaklah terkesan berat, malah bisa menjadi bacaan anak-anak yang sangat menarik, karena penuh adegan lucu serta pesan moral yang bermanfaat bagi anak-anak.

@h_tanzil




ReviewReviewReviewReviewEPILEPTIKApr 21, '08 12:21 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:David B




Judul : Epileptik 1 & 2
Oleh : David B
Penerjemah : Dini Pandia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2008
Tebal : 168 & 198 hlm
Harga : Rp. 45.000,- & Rp. 47.500,-

Ada banyak cara berbagi pengalaman hidup dengan orang lain, terlebih bagi mereka yang merupakan orang-orang terkenal (politikus, artis, wartawan senior, tokoh masyarakat, dll). Umumnya kisah-kisah hidup mereka tersaji dalam bentuk tulisan yang disebut dengan memoir, biografi, autobiografi, dll, dari yang sekedar untuk menonjolkan figur dirinya guna tujuan tertentu, hingga kisah kehidupan sejujurnya baik yang baik maupun yang buruk sebagai pembelajaran kehidupan bagi mereka yang membacanya.

Bentuk memoir/biografi/autobiografi itu biasanya tersaji dalam buku yang tebal, tak jarang berupa hard cover dan dihiasi berbagai foto-foto pribadi sang tokoh. Atau ada juga yang dikemas dalam bentuk fiksi, misalnya Laskar Pelangi yang merupakan memoir dari penulisnya (Andrea Hirata).

Namun apa yang disajikan oleh Piere-Francois alias David B, pendiri L’Association yang merevolusi komik Eropa dengan format, gaya, dan materi yang baru, bisa dibilang unik. Ia menuliskan memoirnya dalam bentuk komik hitam putih. Dan inilah salah satu dari buah revolusi komik yang dilakukan David B, dkk. Dalam karyanya ini ia keluar dari pakem komik mainstream (format album, 48 halaman berwarna , kisah superhero, dll)

David B menulis kisah dirinya dan keluarganya dalam mengatasi penyakit epilepsi yang diderita kakaknya, Jean-Christophe sejak masih kanak-kanak. Dikisahkan bagaimana seluruh keluarga berjuang untuk kesembuhan Jean Cristophe. Berbagai macam cara pengobatan dicoba, mulai dari secara medis hingga berbagai metode alternatif seperti akupuntur, terapi magnetis, menghubungi arwah leluhur lewat para medium, voodo, bergabung dalam komunitas makrobiotik, hingga penyembuhan secara religi. Namun semua usaha pengobatan itu tak berhasil menyembuhkan Jean Christophe, kadang sembuh beberapa saat, namun kembali lagi seragan itu datang dengan pola yang sama, malah semakin sering dan memburuk.

Tanpa disadari penyakit epilepsi yang diderita Jean Christopher mempengaruhi perilaku dan kehidupan seluruh keluarganya. Obsesi seluruh keluarganya untuk menyembuhkan Jean Christophe dan harapan-harapan palsu yang ditawarkan oleh para dokter dan penyembuh lainnya membuat seluruh keluarga ikut menderita dan terguncang secara psikis. Tak terkecuali dengan David, penyakit kakaknya itupun ikut menghantui dirinya. Sesuai dengan bakatnya, ia mengatasinya dengan menggambar dan menulis kisah kehidupan dirinya dan keluarganya lengkap dengan mimpi-mimpi dan apa yang dia rasakan dalam jiwanya yang mulai ‘sakit’.

Pada intinya Epileptik adalah potret jujur tentang penyakit epilepsi yang diderita Jean-Christophe, serta ketakutan yang ditimbulkannya pada keluarga Beauchard. Melalui komik ini kita akan diajak menyelusuri kehidupan David B (Pierre- Francois) sejak masa kecil, remaja, dan dewasanya. Bagaimana penyakit epilepsi yang diderita kakaknya ini akhirnya menciptakan sebuah hubungan yang rumit dengan kakaknya hingga David berpikir untuk menghabisi saja nyawa kakaknya. Tak hanya itu saja, komik ini juga menceritakan kisah –kisah yang dialami oleh kakek nenek David B. Kita akan diajak ke masa silam ketika kedua kakeknya bertempur dalam kedua Perang Dunia. Seolah penulisnya ingin mengungkapkan bahwa sejarah kehidupan keluarganya adalah sejarah panjang dan melelahkan melawan penyakit dan kematian.

Karena kisah dalam komik ini menceritakan kehidupan penulis dan keluarganya maka bisa dikatakan komik ini adalah sebuah graphic diary. David B menorehkan pengalaman hidupnya dengan gambar-gambar komikal dalam sapuan warna hitam putih yang kuat dimana ia tak segan-segan menggunakan blok warna hitam pekat. Walau tokoh-tokohnya digambarkan secara komikal namun ekpresinya terpancar dengan baik sehingga pembaca dapat menangkap emosi yang dirasakan tokoh-tokohnya. Selain itu David B juga memberi latar pada tiap panel gambarnya secara detail dengan gambar-gambar surealis yang memikat.

Memang bukan hal yang mudah untuk menikmati buku ini. Dengan liar David B mencampur adukkan alur ceritanya, kadang ditengah kisah ia bisa langsung mengajak pembacanya ke masuk ke masa silam ke kehidupan kakek neneknya. Belum lagi mimpi-mimpi David yang tiba-tiba menyeruak kedalam inti cerita. Memang ketika hendak mengisahkan mimpi-mimpinya ada teks yang menjelaskan awal dari mimpi David, namun sayangnya tak ada satupun teks yang memberikan keterangan akhir dari mimpinya sehingga pembaca harus berkonsentrasi dan menebak sendiri apakah panel gambar berikutnya masih merupakan mimpi David atau bukan.

Bagi yang tak terbiasa membaca komik serius, komik ini memang agak melelahkan, apalagi ketika David menjelaskan secara panjang lebar mengenai berbagai upaya penyembuhan yang dilakukan oleh Jean-Christophe dan keluarganya. Namun jika kita sabar membacanya dan mencoba memahami komik ini baik dari segi cerita maupun gambarnya maka kita akan menemukan bahwa komik ini menyajikan secara lugas tentang emosi-emosi wajar manusia dalam menghadapi ketakutan akan penyakit dan kematian.

Dan yang juga tak kalah menarik ketika kita mencoba memahami buku yang unik ini adalah ketika kita ingin menafsirkan dan mencari gambar-gambar tersembunyi didalam panel-panel gambarnya. Memang memerlukan waktu dan konsentrasi, namun justru disinilah letak seni dalam membaca dan memahami komik.

Gambar-gambar dalam komik ini mungkin mengingatkan kita pada Persepolis - Marjane Satrapi (tak heran karena Satrapi merupakan murid dari David B). Namun apa yang dikisahkan oleh David B lebih dalam dan gambarnya lebih mendetail dibanding Satrapi. Dalam edisi aslinya yang berjudul l'Ascension du Haut Mal, memoir ini terdiri dari 6 jilid komik yang terbit sejak tahun 1996 – 2003. Edisi bahasa Inggrisnya terbit dengan judul Epileptic (2003) yang setebal 368 halaman! Bayangkan bagaimana rasanya membaca komik serius setebal itu!

Bersyukur edisi bahasa Indonesianya oleh Gramedia dibagi dalam dua buku yang masing-masing setebal 163 & 198 halaman sehingga tak terlalu lelah membacanya. Selain itu buku ini juga dikemasan dengan cover yang menarik dan dicetak diatas kertas yang tak silau mata, ringan dan mampu menyerap tinta cetak secara sempurna.

Usaha Gramedia untuk menerjemahkan dan menerbitkan komik yang disebut-sebut sebagai salah satu dari sepuluh novel grafis terpuji sepanjang masa ini patut diacungi jempol. Hingga kini bisa tampaknya baru Gramedia yang secara serius dan kontinu menerbitkan komik-komik alternatif kelas dunia. Dan ini semakin membuktikan kepada publik Indonesia bahwa komik bukanlah sekedar kisah superhero yang menghibur. Melalui komik, kini kita bisa belajar memaknai perjuangan manusia dalam meniti kehidupannya.

@h_tanzil


Ket : gambar-gambar dalam komik dari : http://saturdaypeople.multiply.com/

ReviewReviewReviewReviewTuan Tanah KedawungApr 7, '08 11:54 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Ganes TH
Judul : Tuan Tanah Kedawung
Penulis : Ganes TH
Penerbit : komikindonesia.com
Retouch gambar: Erwin Prima Arya
Desain & Retouch cover : Wahyu Hadiyatz
Koordinator : Andy Wijaya
Cetakan : Jan 2008
Tebal : 7 jilid @ 64 hal
Harga : Rp. 170.000,-

Sejarah panjang komik Indonesia mencatat nama Ganes TH (1935-1995) sebagai salah satu legenda komik Indonesia. Pada masanya ia merupakan salah satu dari tiga dewa komik Indonesia bersama Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Kisah-kisahnya begitu memikat pembaca komik Indonesia di era tahun 70-80 an, apalagi ketika ia melahirkan tokoh Si Buta dari Gua Hantu yang menjadi trade mark-nya dan merupakan tokoh komik lokal yang paling populer sepanjang masa. Kabarnya, saat itu komik seri ini dicetak hingga ratusan ribu ekslempar.

Sebenarnya selain komik seri Si Buta dari Gua Hantu, masih ada karya-karya masterpiece yang lahir dari goresan ajaib tangan Ganes TH. Yang tak boleh dilupakan adalah Krakatau (1970), Tuan Tanah Kedawung (1970), Tjisadane (1968-1969), dan Nilam dan Kesumah (1970). Keempat komik ini sering juga disebut sebagai ‘quadrology’, atau ada juga yang menyebutnya sebagai ‘tetralogi samolo’ walau Ganes TH sendiri tak pernah menyebutnya demikian. Dari keempat judul itu, Tuan Tanah Kedawung adalah judul yang paling populer. Hingga awal dekade 1990-an komik ini masih dicetak ulang oleh penerbitnya, UP Rosita. Dan seperti Si Buta dari Gua Hantu, Tuan Tanah Kedawung juga pernah difilmkan oleh Tidar Film di tahun 1972.

Menyusul dicetak ulangnya karya-karya Ganes TH oleh komik indonesia.com, kini komik Tuan Tanah Kedawung telah beredar di pasaran. Karena tampaknya diperuntukkan bagi para kolektor, Tuan Tanah kedawung dicetak dengan mewah diatas kertas art paper yang terlebih dahulu diretouch sehingga kualitas gambar dan cetakannya benar-benar kinclong dan sempurna.

Kisah Tuan Tanak Kedawung sendiri pada intinya menceritakan tentang kisah perebutan harta warisan Tuan Tanah Kedawung dengan setting sebuah wilayah di Tanggerang pada tahun 1909-an. Kisahnya berawal dari pulangnya Giran, putra Tuan Tanah Kedawung dari perantauannya di Borneo (Kalimantan). Harapan untuk menemui keluarganya dalam keadaan bahagia pupus ketika ia menemui ibu dan adik tirinya dalam keadaan yang mengenaskan dengan wajah yang rusak.

Melalui penuturan ibu tirinya, Giran diberitahu bahwa semua ini akibat ulah Samolo, centeng ayahnya yang bekerja sama dengan Ratna, istri Giran yang hendak merebut harta warisan ayahnya yang telah meninggal dunia. Giran menjadi naik pitam, ia segera menemui istrinya yang telah sekian lama ditingalkannya. Istri dan anak kandungnya hampir saja dibunuhnya, untunglah ada Samolo yang melindunginya. Giran pun bertarung mati-matian melawan Samolo yang bermaksud melindungi Ratna dan anaknya.

Setelah bertarung dengan Samolo, akhirnya Giran bertemu dengan Nyi Londe, ibu asuhnya waktu kecil. Penuturan Nyi Londe tentang tragedi yang menimpa keluarganya ternyata berlawanan dengan kisah yang ia dengarnya dari ibu tirinya. Hal ini membuat Giran bingung dalam menentukan manakah kisah yang benar yang harus dipercayainya.

Melalui penuturan kisah keluarga Tuan Tanah Kedawung oleh Nyi Londe inilah pembaca dibawa ke berpuluh tahun yang lalu ketika Giran masih berusia tiga bulan hingga ke masa-masa ketika Giran merantau ke Borneo. Dari kisah Nyi Londe inilah perlahan-lahan rahasia, intrik perebutan harta warisan, dan malapetaka yang menimpa keluarga tuan Tanah Kedawung terungkap. Namun walau Nyi Londe menceritakan dengan begitu rinci, Giran tetap tak memercayai kisah Nyi Londe begitu saja hingga akhirnya sebuah peristiwa menyadarkan Giran akan kebenaran sejati yang menimpa keluarganya.

Walau menuturkan sebuah kisah tragedi kemanusiaan yang dialami keluarga tuan Tanah Kedawung dengan dramatis, seperti halnya karya-karya Ganes TH lainnya, komik ini juga menyajikan adegan-adegan seru berupa perkelahian antar tokoh-tokohnya. Ada adu kekuatan dan kesaktian jurus-jurus silat, balas dendam masa lampau yang terbawa hingga kini, perebutan kotak pusaka, dll.

Dalam serunya adegan perkelahian antara Samolo dan lawan-lawannya ada adegan yang mengejutkan, yaitu munculnya seorang pendekar buta. Walau hanya muncul sekali itu saja dan tidak diungkapkan siapa pendekar tersebut, namun dari gambarnya akan terlihat jelas bahwa pendekar itu adalah si Buta dari Gua Hantu ! Kemunculan si Buta dari Gua Hantu di komik ini tentu saja mengundang reaksi pembaca, hingga akhirnya Ganes TH perlu mengklarifikasikannya di jilid ke 6 buku ini.

Kisah yang memikat, adegan silat yang seru, kejutan-kejutan tak terduga, munculnya tokoh-tokoh yang memiliki keterkaitan dengan seri-seri lain dari karya GanesTH , narasi dramatik yang sangat bagus, penuh emosi, dan plot nya yang berliku dan menarik membuat komik ini termasuk salah satu mahakarya Ganes TH yang tak boleh dilewatkan untuk dibaca. Sebenarnya komik ini akan lebih menarik jika kita terlebih dahulu membaca komik Krakatau yang merupakan prequel dari Tuan Tanah Kedawung.

Edisi Remastering

Seperti telah diungkap di awal ulasan ini, Komik Tuan Tanah Kedawung yang diterbitkan ulang oleh komik indonesia.com ini merupakan hasil remastering dari master komik aslinya. Tak ada yang dirubah sedikitpun baik untuk cover maupun gambarnya, kecuali teksnya yang diketik ulang dengan komputer dan ejaannya yang diperbaharui. Satu hal lagi yang membedakan dengan edisi awalnya adalah perubahan warna kotak narasi dalam tiap panel gambarnya. Jika pada edisi awal berupa kotak putih dengan tulisan hitam, maka pada edisi remastering kotaknya menjadi hitam dengan tulisan putih. Selebihnya pembaca masih bsia menikmati goresan-goresan tinta Ganes TH dalam tiap lembarnya.

Menurut Erwin Prima yang meretouch komik ini seperti yang diungkap dalam blognya (http://erwinprima.multiply.com) , ia melakukannya dengan cara memindai (scan) langsung dari komik masternya, lalu dilakukan proses ‘pembersihan’ yaitu dengan cara menghitamkan warna-warna yang sudah luntur, dan memutihkan area-area yang kotor. Tampak sederhana namun tentunya bukan hal yang mudah dilakukan karena memerlukan ketelitian dan kesabaran ekstra agar hasilnya menjadi sempurna. Kabarnya diperlukan waktu 6 bulan lamanya untuk meretouch 448 halaman (7 jilid) komik ini.

Kerja keras yang dilakukan Erwin Prima dan komik indonesia.com ini tak sia-sia, hasil remastering komik yang telah berusia lebih dari 30 tahun ini berhasil membuat tampilannya lebih ‘muda’ dan modern. Karena dicetak diatas kertas art paper, maka tampilannya menjadi kinclong dan terkesan mewah. Dan yang pasti, secara fisik komik ini akan lebih tahan lama hingga puluhan tahun kedepan. Bisa dikatakan apa yang dilakukan oleh komik indonesia.com adalah mengabadikan salah satu mahakarya legenda komik Indonesia.

Namun semua usaha ini ada konsekuensinya, salah satunya adalah harga komik yang relatif mahal dibanding dicetak diatas kertas biasa. Komik Tuan Tanah Kedaung yang terdiri dari 7 jilid (@64 hal) ini dibandrol seharga 170 ribu rupiah. Bagi seorang kolektor komik mungkin masalah harga tak menjadi masalah, namun bagi pembaca awam, harga tersebut cukup membuat orang berpikir dua kali untuk membelinya. Namun jangan khawatir komik ini juga dicetak diatas kertas HVS biasa dengan harga yang terjangkau.

Beberapa pembaca komik-komik Ganes TH juga menyatakan keberatannya atas perubahan ejaan. Karena diganti dengan ejaan baru, maka ‘rasa’ Ganes TH yang aslinya menggunakan ejaan yang sesuai dengan zamannya menjadi hilang. Tapi ini mungkin suatu usaha kompromi yang diambil agar komik ini dapat dibaca dengan nyaman oleh pembaca muda. Penggantian tulisan tangan Ganes TH dengan computer juga patut disayangkan. Bukankah lettering pada komik merupakan hasil seni yang menyatu dengan gambar?

Terlepas dari semua itu. Usaha penerbitan ulang komik-komik lawas yang pernah menyihir jutaan pembaca komik Indonesia di masa lampau patutlah dihargai setinggi-tingginya. Setidaknya komik-komik lawas yang mungkin telah terlupakan atau bahkan tidak dikenal oleh generasi muda sekarang dapat kembali dibaca dan dinikmati.

Kehadiran komik-komik Indonesia yang sejaman dengan Ganes TH menawarkan sebuah nuansa baru baik dari segi cerita maupun gambar-gambarnya yang khas. Saat ini komik Indonesia banyak dipengaruhi oleh gaya manga jepang dan komik-komik Eropa. Apakah kisah dan goresan-goresan gambar Ganes TH dan komikus seangkatannya merupakan ciri khas komik Indonesia yang murni ? Inilah pertanyaan yang selalu muncul dalam benak saya.


@h_tanzil


ReviewReviewReviewSenja di HimalayaMar 30, '08 11:35 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Kiran Desai
Judul : Senja di Himalaya
Judul Asli : The Inheritance of Loss
Penulis : Kiran Desai
Penerjemah : Rikka Iffati Farihah
Penerbit : Hikmah
Cetakan : I, Desember 2007
Tebal : 542 hal

Senja di Himalaya adalah novel terjemahan dari The Inheritance of Loss karya penulis asal India Kiran Desai (37). Novel ini memenangkan Man Booker Prize for Fiction 2006. Penghargaan untuk novel terbaik sepanjang tahun yang ditulis oleh warga negara di negara persemakmuran Inggris dan Irlandia dimana novel tersebut harus diterbitkan dalam bahasa Inggris dan tidak dipublikasikan sendiri.

Novel ini merupakan sebuah kisah-kisah paralel yang berlatar India pasca-kolonial dan Amerika Serikat. Bersetting tahun 1980-an di perkampungan Kalimpong di pegunungan Himalaya, ceritanya berkisar pada beberapa tokoh utama dalam novel ini. Jemubhai Petel, atau yang dalam novel ini disebut ‘Sang hakim’ adalah laki-laki tua mantan hakim lulusan Cambridge yang kini menghabiskan masa pensiunnya di sebuah rumah tua yang diberi nama Cho Pyu bersama anjing kesayangannya dan seorang jurumasak setianya

Sai Petel, gadis berusia 16 tahun, cucu sang hakim yang menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya mengalami kecelakaan terpaksa harus meninggalkan sekolahnya dan tinggal bersama sang hakim di Cho Pyu. Di tempat kakeknya ini Sai jatuh hati pada Gyan guru les matematikanya , seorang mahasiswa Nepal dari sebuah perguruan tinggi ternama.

Tentu saja hubungan antara Sai dan Gyan tidak direstui oleh sang hakim karena perbedaan status, terlebih karena Gyan adalah orang Nepal, warga minoritas kelas dua dimata sang hakim. Walau awalnya Gyan mencintai Sai, namum Lambat laun sikap sang hakim dan Sai yang kebarat-baratan membuat Gyan membenci keduanya, apalagi kelak Gyan akan bergabung dengan kelompok separatis yang memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa Nepal.

Sementara itu ribuan kilometer dari Kalimpong yang terpencil, Biju, anak dari juru masak sang hakim sedang berjuang memperoleh kehidupan yang layak sebagai seorang imigran gelap di New York – Amerika Serikat. Biju tersaruk-saruk dalam belantara kota New York dan bekerja sebagai pelayan restoran secara berpindah-pindah untuk menghindari kejaran pihak imigrasi. Satu-satunya penghubung antara Biju dengan ayahnya hanyalah melalui surat menyurat. Biju tak pernah mengeluh apapun soal kehidupannya kepada ayahnya, sehingga ayahnya selalu menganggap Biju telah hidup sukses di Amerika.

Kehidupan di Kalimpong yang damai terusik ketika kelompok separatis Nepal berdemonstrasi utnuk memperjuangkan kemerdekaannya. Demonstrasi damai tiba-tiba berubah menjadi kerusuhan. Kekerasan merebak di seluruh Kalimpong. Jam malam diberlakukan. Kalimpong terputus dari dunia luar. Disaat kerusuhan inilah Biju akhirnya memutuskan untuk pulang ke India untuk menemui ayahnya.

Kerusuhan ini juga menyebabkan hubungan antara Sai dan Gyan yang tergabung dalam kelompok separatis Nepal menjadi goyah. Terpengaruh oleh pandangan kelompoknya dan sikap sang hakim dan Sai yang kebarat-baratan membuat Gyan membenci keduanya.

Kisah diatas ditulis oleh Kiran Desai dalam novelnya ini dengan gaya bahasa percakapan yang sederhana antar tokoh-tokohnya, namun Desai juga menampilkan setting pendukungnya seperti tempat, karakter dan latar karakter tokoh-tokohnya dengan sangat detail. Paradoks inilah yang oleh para juri Booker Man Prize 2006 dianggap mampu membelenggu pembaca untuk bersimpati pada tokoh-tokoh dengan konfliknya masing-masing.

Dari tokoh Sang Hakim / Jemubhai Petel, kita akan disodorkan pada sosok India yang sudah kehilangan identitas ke-indiaannya dan mengalami post power syndrome ketika telah pensiun karena dia menganggap dirinya lebih tinggi statusnya dibanding masyarakt sekitarnya.

Sai Petel, Biju dan Gyan mewakili tokoh generasi muda India yang gamang, mencari jati diri diantara pertentangan nilai-nilai barat dan timur, dan efek sosial dan psikologis yang dirasakan oleh mereka karena berada di wilayah ‘antara’ budaya barat dan timur.

Salah satu bagian yang menarik dari novel ini adalah karakter Biju dan deskripsi kehidupannya sebagai imigran gelap di Amerika. Melalui karakter Biju kita akan mengetahui bagaimana para pemuda India sebagian besar beranggapan bahwa Amerika adalah tanah impian untuk meraih kesuksesan. Karenanya mereka berjuang mati-matian untuk memperoleh Green Card. Bagaimana Biju berjuang untuk memperoleh Green Card sangat menarik dan penuh dengan humor yang getir.

Ketika Green card gagal diperoleh, Biju dan sebagian besar kawan-kawannya tetap berangkat ke Amerika dengan cara illegal. Resikonya mereka harus pandai-pandai menyembunyikan diri dari pihak imigrasi Amerika. Atau kalau perlu mereka akan menikahi nenek-nenek warga Amerika guna memperoleh kewarnganegaraan Amerika. Selain itu, mereka yang telah berhasil tinggal di Amerika harus berusaha menghindar teman-teman sekampungnya yang baru datang ke Amerika karena khawatir mereka akan ditumpangi dan menimbulkan kesulitan baru ditengah kehidupan mereka yang sudah sedimikian sulit.

Seperti umumnya novel-novel peraih penghargaan sastra internasional, novel ini bukan novel yang mudah untuk dikunyah. Alur kisah tokoh-tokohnya tidak linier, kadang mundur jauh kebelakang lalu kembali lagi ke masa kini, sehingga perlu konsentrasi ekstra untuk membacanya. Kisahnyapun seakan hanya berputar-putar pada kehidupan tokoh-tokohnya, tak heran pembaca yang kurang sabar akan merasa jenuh dan tak tahan untuk menamatkan novel ini.

Ternyata kesulitan untuk menikmati novel inipun diakui oleh Kiran Desai sendiri. Dalam wawancaranya dengan wartawan Tempo - Angela Dewi (Koran Tempo, 28 Okt 2007), ketika Angela dengan jujur mengungkap bahwa ia butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan novel ini. Dengan tertawa Desai menyatakan, “Anda pembaca ke seribu yang berkata seperti itu”.

Menurut Desai novel keduanya ini yang dikerjakannya selama 7 tahun ini adalah hasil dari coretan-coretan panjang pada kertas setebal 1500 halaman dengan konflik yang lebih kompleks dari novel jadinya. Dan sebagian dari apa yang dikisahkannnya merupakan pengalaman pribadinya. Rumah Cho Oyu di Kalimpong memang benar-benar ada dan Desai pernah menginap selama beberapa hari disana.

Dengan kompleksitas pada novelnya ini Desai tampaknya mencoba menangkap makna hidup di wilayah antara timur dan barat dan bagaimana rasanya menjadi imigran. Apa jadinya sesuatu yang bukan barat diberi sentuhan dan terpapar pada hal-hal berbau barat. Apa jadinya jika orang-orang yang biasa hidup dalam kemiskinan tiba-tiba berada di negara yang kaya. Hal yang sebenarnya sudah terjadi saat kolonial Inggris menyentuh India, lalu sekarang terjadi lagi saat Amerikanisasi mulai menyentuh kehidupan orang India.

Menyoal Terjemahan dan Cover Terjemahan

Novel yang sulit tentu saja akan lebih sulit dipahami jika terjemahannya kurang baik. Selama membaca novel ini, saya menemukan beberapa kejanggalan terjemahan. Belum lagi membaca isinya, saya terperangah ketika membaca judul terjemahannya menjadi Senja di Himalaya, saya rasa terjemahan judul tersebut tidaklah pas. Memang setting cerita sebagian besar berkisar di desa Kalimpong di kaki gunung Himalaya, namun akan lebih elok jika diterjemahkan mendekati judul aslinya yang kira-kira bermakna ‘warisan yang hilang’ karena memang kisahnya mengenai ‘warisan’ budaya yang hilang akibat benturan tradisi barat paska kolonialisme di India.

Sedangkan dari segi isinya, beberapa terjemahan khususnya dalam kalimat-kalimat metafora, tampak terkesan dipaksakan diterjemahkan secara harafiah sehingga menjadi aneh dan lucu. Berikut beberapa terjemahan yang saya anggap tidak pas :
“Telepon itu duduk berjongkok di ruang tamu rumah penginapan tersebut” (hal 379).
“Dasar sampah!” Jemubhai berteriak dan, dari antara buah dada Nimi yang berduka,…(hal 278)
“…, pelan-pelan melunak, sampai pantatnya mulai menetes ke bawah kursi..” (hal 252)
“..seorang pria yang muncul dengan rekomendasi koyak yang diwarisi dari ayah dan kakek..(hl 108).

Sedangkan untuk cover novel terjemahannya, saya rasa ilustrasi cover dengan isi novel ini tidaklah cocok. Cover terjemahannya melukiskan wajah gadis India yang sedang terbaring diatas rerumputan. Apa maksudnya ? Apakah gadis ini adalah tokoh Sai ? Jikapun demikian tidaklah tepat karena novel ini tidak hanya menceritakan tokoh Sai, melainkan ada beberapa karakter utama yang memiliki porsi cerita yang sama banyaknya. Saya rasa cover aslinya berupa ilustrasi sebuah pohon lebih tepat, lebih indah, dan multi tafsir.

Jika kita cermati saat ini cover dengan wajah wanita timur mendominasi cover-cover buku kita, terlebih novel2 terbitan mizan group, sebut saja :

- My Salwa My Palestine – Ibahim Fatwal - Mizania
- Perempuan Terluka – Qaisra Shahraz - Mizan
- Taj Mahal, Kisah Cinta Abadi – John Shors - Mizan
- Taj – Timeri N. Murari - Mizan
- A Thousand Splendid Suns – Khaled Hosseini - Qanita
- Maya – Jostein Gaarder – Mizan

Apakah selera pasar memang menghendaki demikian? Apakah cover dengan ilustrasi wanita lebih ‘menjual’ dibanding ilsutrasi lain?
Ada pepatah mengatakan “don’t judge book by the cover”, memang benar! Isi sebuah buku tidak dapat dinilai hanya dengan covernya. Tapi alangkah baiknya jika cover sedapat mungkin mencerminkan isi dari sebuah buku.

@h_tanzil



ReviewReviewReviewDrunken Monster Mar 16, '08 10:20 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Other
Author:Pidi Baiq
Judul : Drunken Monster (Catatan Harian)
Penulis : H. Pidi Baiq
Ilustrator : H. Pidi Baiq
Penerbit : DAR! Mizan
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : 201 hlm


Pidi baiq itu pahlawan komikus indie bandung, dan bisa jadi indonesia yang paling sableng yg pernah sy kenal.ngomongin komik bandung.ngga lepas dari pidi. Buku ini kumpulan catatan hariannya pidi yg ada di multiply dia.dijamin ngakak, maklum ngga waras.kalo di jogya ada eko nugroho(indie juga) di bandung harus sebut satu nama “pidi”.

Demikian SMS yang saya terima dari salah seorang kawan saya yang menginformasikan buku Drunken Monster – Pidi Baiq. Tertarik dengan SMS tersebut, ditambah lagi dengan membaca kata pengantar buku ini yang diupload di beberapa milis perbukuan yang menyatakan bahwa “Ini Buku Berbahaya”, membuat saya makin penasaran ingin membacanya.

Bersyukur karena tak terlalu lama kemudian saya menerima sebuah buntelan dari Mizan yang ternyata isinya buku Drunken Monster!. Segera saja saya membacanya, dan benar apa yang dikatakan orang-orang yang sudah membacanya, ternyata buku catatan harian Pidi Baiq ini memang benar-benar gila dan lucu!

Buku catatan harian Pidi Baiq yang memiliki seabrek pengalaman ini (mantan vokalis band indie The Panasdalam, mantan Dekan sebuan Universitas di Bandung, anggota Tim Kreatif Project-P, Staf Ahli di Bimbel Villa Merah, konsultan di galeri seni dan budaya SPACE 59, serta ilusrator di Penerbit Mizan) sejatinya berasal dari seluruh jurnal hariannya di http://pidibaiq.multiply.com ini berisi 18 kisah-kisah keseharian seorang Pidi Baig.

Kesemua kisahnya membuat saya tertawa-tawa dalam hati, bahkan beberapa kisah sanggup membuat saya tertawa dengan keras sehingga membuat orang-orang di sekitar saya terheran-heran hehe…

Sebenarnya tidak ada kisah yang bombastis, tidak ada kisah yang mengada-ngada, semua kisah berangkat dari keseharian Pidi Baig seperti mengantar anak ke sekolah, naik kereta ke jakarta, obrolan dengan temannya, derita karena sakit, dll. Namun Pidi dengan keisengan dan cara berpikirnya yang memang usil membuat keseharian yang biasa-biasa saja menjadi kejadian-kejadian yang lucu dan menarik untuk dibaca.

Pidi memang unik, cara berpikirnya aneh, apa yang tidak terpikirkan oleh kita, terpikirkan oleh Pidi dengan keisengannya yang lucu. Pidi juga memiliki keberanian yang luar biasa untuk mengungkap dan bertindak apa yang dipikirkannya itu terhadap siapapun lawan bicaranya yang ia temui mulai dari tukang parkir, tukang becak, satpam, penjual rokok, hingga Rosi, istrinya sendiri. Semuanya dijadikannya objek kejahilannya. Untuk hal ini saya percaya bahwa Pidi memang ‘gila’ dan super jahil!

Selain itu cara penuturan Pidi pun tak lazim. Kalimat-kalimatnya meluncur melanggar tata bahasa Indonesia yang baku, semuanya seakan berjumpalitan semau-maunya. Pidi bermain-main dengan kalimat. Ia sering menjelaskan apa yang sebenarnya tidak perlu dengan kalimat-kalimat yang irit dan lugas. Karenanya bagi yang belum biasa membaca tulisan-tulisannya akan terasa sulit memahami apa yang dimaksud Pidi. Namun jangan khawatir kesulitan itu akan segera sirna ketika kita telah terbiasa membacanya.

Namun dibalik keunikan kalimatnya dan kelucuan kisah-kisahnya, ada juga beberapa kisah yang membuat saya tertawa dalam haru. Dibalik keisengan Pidi, sesuai dengan bunyi ucapan namanya “Pidi Baiq”, Pidi memang benar-benar baik dan dermawan. Ia tak segan-segan memberikan sejumlah uang yang cukup besar pada orang-orang kecil yang ditemuinya seperti tukang parkir, tukang becak, sopir taksi, tukang ojek, dll. Kisah yang paling membuat saya terharu adalah ketika Pidi mengantar tukang becak jalan-jalan ke kota dan mengantarnya satu persatu ke rumah masing-masing. (Monggo Mirno-hal 146)

Di buku ini yang semua kisahnya bersetting di Bandung, Pidi juga sempat menyentil realitas yang ada di kota Bandung, misalnya dalam kisah “Mengejar Kereta” , ia berseloroh bahwa gedung-gedung tua di sepanjang Braga sangatlah indah dan anggun. Ia heran mengapa gedung-gedung peninggalan penjajah malah bagus sehingga ia berpikir untuk mengajukan proporsal,

“Atau kita ngajuin proposal aja Bang?”
“Buat?”
“Buat Pemerintah Belanda atau Inggris lah. Minta kita dijajah lagi! Biar bangunannya kuat. Biar tata kotanya beres. Biar taman kotanya bagus!” (hal 67).

Memang dalam kisah-kisahnya, Pidi memang tak hanya menawarkan kelucuan dan keisengannya, melainkan ada nilai-nilai kehidupan yang terbungkus dalam candanya. Siapa yang berpikir kritis dan mau sedikit berjerih memaknainya, pastilah akan memperolehnya.

Buku ini cocok untuk dibaca siapa saja. Bagi mereka yang kadang berpikir terlalu serius anggaplah buku ini sebagai penyeimbang dan sebuah tawaran agar bisa sedikit lebih ‘gila’ dan tak terlalu serius menghadapi kehidupan ini.

Dari segi buku-buku bergenre humor di Indonesia, mungkin inilah buku humor yang lain daripada yang lain. Salut untuk penerbitnya yang berhasil menemukan ‘kelainan’ dari sebuah catatan harian di media internet yang kini marak dibukukan. Yang pasti buku ini tutur menyemarakkan khazanah dunia perbukuan kita.

Ah, saya terlalu serius, pokoknya bacalah dan nikmatilah buku ini tanpa dibebani oleh berbagai komentar tentang buku ini yang tampaknya mulai bermunculan baik di media-media cetak maupun blog-blog pribadi. Lupakan ulasan saya ini segera dan bacalah bukunya, dan selamat memasuki alam pikir dan keseharian Pidi Baiq yang gila, ganjil, dan lucu.

Akhir kata, izinkan saya mengutip apa kata Prof Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat di Unpar dan ITB) dalam kata pengantar di buku ini :

Kegilaan dan permainan adalah terapi yang penting untuk menjaga kewarasan dan keindahan hidup. Manusia telah menjadikan hidup terlampau seirus, terencana dan rasional -terlampau “normal” kata Michel Foucault- hingga hidup tak lagi menawan, menggemaskan dan orang terjangkiti amnesia massal alias lupa. Lupa pada tertawa, lupa pada kekonyolan manusia yang kerap menggelikan. Lupa bahwa hidup barangkali sebuah permainan indah yang mengasyikan; akal-akalan manusia, permainanTuhan. (hal 14)

Sampai kita berjumpalitan !

@h_tanzil



Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Armaya Junior
Judul : An Affair to Forget – Mencintai saja tak pernah cukup
Penulis : Armaya Junior
Penyunting : GIta Romadhona
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : I, 2008
Tebal : 237 hlm

Hal pertama yang kubayangkan ketika seorang perempuan dikhianati adalah marah besar, bahkan bukan tak mungkin menggugat cerai suaminya. Tapi ketika pengkhianatan itu menimpa Anna, sahabatku, semua itu tak kutemukan darinya. Sebagai perempuan mandiri dan tegar, dia memilih jalan yang bagi orang lain terasa mustahil, yaitu berusaha mencari informasi tentang perempuan selingkuhan suaminya dan..berteman dengannya.

Awalnya tak ada yang salah dengan pernikahan Toni dan Anna, sembilan tahun sudah pernikahan yang mereka lewati. Keluarga yang romantis dan bahagia, dua anak, dan perekonomian yang mapan karena Toni dan Anna sama-sama bekerja dan memiliki karir yang menjanjikan. Namun tiba-tiba Anna melihat keganjilan atas perilaku suaminya. Naluri kewanitaannya sebagai seroang istri mengatakan bahwa Tony telah berselingkuh dengan wanita lain.

Dengan bantuan sahabatnya, Anna mencoba membuktikan kecurigaannya. Dan ternyata benar, Toni, suaminya berselingkuh. Tak dapat dipungkiri kalau ia merasakan pedih dan sakit hati. Namun Anna bukanlah tipe wanita yang cengeng. Ia tidak larut dalam kesedihan, melainkan berusaha untuk mengembalikan suaminya ke dalam pelukannya kembali.

Akhirnya Anna berhasil menemukan wanita selingkuhan suaminya. Ia adalah seorang klien suaminya yang bernama Dini. Namun apa yang dilakukan Anna bukanlah melabrak Dini, atau mengancam suaminya agar segera meninggalkan Dini atau bercerai dengannya. Tidak! Anna justru melakukan tindakan yang sama sekali diluar dugaan siapapun. Ia tekan rasa pedih dan sakit hatinya, alih-alih menaruh dendam dan amarah kekasih suaminya, Anna malah menjalin persahabatan dengan Dini, wanita yang jelas-jelas ingin merengut kebahagiaan rumah tangganya.

Perselingkuhan memang merupakan masalah terbesar dalam keutuhan suatu rumah tangga dan merupakan penyebab utama perceraian. Banyak sudah kisah perselingkuhan diangkat dalam ranah fiksi, namun yang membuat novel ini istimewa adalah bagaimana akhirnya sebuah perselingkuhan diakhiri dengan cara yang tidak lazim seperti yang sering kita dengar dan baca baik di kisah-kisah nyata maupun kisah-kisah fiksi.

Melalui kisah yang dinarasikan oleh tokoh “Aku” selaku sahabat Anna, pembaca akan diajak mengikuti perjuangan Anna untuk merebut kembali suaminya ke pelukannya. Walau bercerita kepedihan soerang wanita namun tidak ada narasi cengeng dalam novel ini. Tokoh-tokoh dalam novel ini adalah tokoh yang tegar, berpendidikan, dan memiliki gaya hidup modern.

Kehidupan masyarakat metropolis menengah keatas dengan gaya hidup yang bebas tergambarkan juga melalui semua tokoh dalam novel ini. Hubungan one night stand untuk mendapatkan seks dan cinta sesaat merupakan hal yang lumrah. Kencan yang berakhir dengan hubungan seks bukan hal yang aneh. Kalaupun ada penyesalan karena telah melakukan hubungan seks, itupun bukan karena tokohnya ingat akan dosa, melainkan karena hubungan persahabatan yang mungkin akan rusak akibat seks.

Karenanya novel ini benar-benar hanya dapat dibaca oleh mereka yang telah berpikir secara dewasa. Deskripsi hubungan seks dan adegan percumbuan walau disampaikan dengan halus namun sanggup membawa pembacanya masuk dalam imajinasi kenikmatan cinta.

Namun dibalik kehidupan bebas para tokoh-tokohnya, ada satu hal yang menarik dan menggugah kesadaran pembacanya. Melalui kisah cinta Anna dan Toni yang begitu romantis dan menggebu-gebu ternyata hal itu tak otomatis membuat rumah tangga mereka bebas dari hantaman badai. Ternyata mencintai saja tak cukup. Ada beberapa hal yang tentunya akan kita peroleh setelah membaca novel ini.

Armaya Junior memang pencerita yang mahir, kita akan dibuat betah menikmati novel ini dan selalu dibuat bertanya-tanya bagaimana kira-kira peristiwa selanjutnya dari kejadian-kejadian yang terjadi di novel ini. Amarya tampaknya juga mahir dalam mendeskripsi detail sebuah tempat atau peristiwa. Selain deksrpisi percumbuan yang memabukkan , pembaca juga diajak masuk dalam detail mengenai rumah dan furniturnya. Dan satu lagi yang unik, pembaca diajak sejenak masuk dalam dunia Akuntansi lewat dialog tokoh-tokohnya.

Novel dengan materi politik, filsafat, budaya, kedokteran, hukum, dll sering kita baca. Namun novel dengan muatan Akuntansi ? rasanya dalam ranah fiksi tanah air, baru Amara Junior yang melakukannya. Salut untuk penulis yang telah melakukan terobosan ini. Bagi pembaca yang mengenal dunia akuntansi hal ini tentu saja sangat menarik, namun bagi mereka yang tidak mengenal permasalahan akuntansi hal ini menjadi bagian yang membosankan.

Namun jangan khawatir, materi akuntansi dalam novel ini tidaklah banyak. Hanya ada dua bagian, di kisah-kisah awal dan di bagian akhir ini. Nah, di bagian mendekati akhir novel (hal 163-165) inilah yang tampaknya agak mengganggu kenikmatan membacanya. Ketika emosi pembaca sudah memuncak ingin segera mengetahui akhir dari kisah ini, tiba-tiba penulis kembali memasukkan dialog akuntansi, walau tak banyak namun cukup mengganggu. Mungkin sebaiknya materi akuntansinya dipadatkan saja dibagain-bagian awal agar emosi pembaca tak terganggu.

Akhirnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, novel yang menurut penulisnya diangkat dari kisah nyata plus materi akuntansi ini telah hadir dan menyemarakkan khazanah sastra kita. Jika mau dicermati dan dimaknai, apa yang telah disajikan oleh penulisnya bukanlah sekedar novel cinta yang menghibur belaka, ada sebuah pesan yang tampaknya ingin disampaikan, selain mencerdaskan pembacanya dengan materi akuntansinya, novel ini juga membuka pikiran pembacanya bahwa ada alternatif lain dalam memecahkan masalah. Mencintai saja tak pernah cukup untuk memelihara keutuhan rumah tangga.

Seperti yang terdapat di lembar terakhir novel ini, Anna mengungkap bahwa ia mau kisah cintanya ini dibukukan agar bisa berbagi kepada banyak orang, “Aku mau share pengalaman biar semua perempuan tahu alternatif memelihara pernikahan mereka” (hal 237)

Tentang Penulis

Armaya Junior adalah nama pena dari Ardian Syam, yang saat ini bekerja di sebuah BUMN terkenal di Medan dan memiliki latar belakang pendidikan Magister Akuntasi
Ia dikenal sebagai seorang penulis buku-buku motivator, “Kacamata Kuda” (Amara Books,2006), Instrumen Orang Sukses (LP-FEUI, 2007), selain itu artikel-artikel motivasinya juga dapat dibaca di www.bukakacamatakuda.blogspot.com. atau di www.andriewongso.com .

Sebagai penulis motivasi ia kini mencoba masuk dalam ranah fiksi. Sebelumnya Armaya memang pernah menulis beberapa puisi dan cerpen di muat di beberapa koran Medan. Mengapa sampai menulis novel? Berdasarkan pengamatannya, ia beranggapan masyarakat kita lebih menyerap pesan apapun lewat media fiksi (seperti cerpen, novel, sinetron, film TV maupun film bioskop). Maka selain menyampaikan pesan lewat media-media serius seperti buku motivasi, ia mencoba menyampaikan lewat novel.

Karena ditantang oleh seorang temannya untuk membuat sebuah novel dengan muatan akuntansi dan anggapan sebagian besar orang bahwa akuntansi tidak menarik untuk diceritakan, seketika itu juga darah akuntannya menggelegak untuk menjawab tantangan tersebut. Maka lahirlah novel perdananya ini dengan muatan akuntansi didalamnya.

Kabarnya Armaya tengah mempersiapkan dua buah novel berikutnya yang juga memasukkan unsur-unsur akuntansi di dalamnya. Selain itu, ia juga sedang menulis buku akuntansi dengan metode yang menyenangkan. Dengan gaya bercerita, dan sebanyak mungkin menghindari kata-kata yang berat, dan diimbuhi dengan komik.

Jika Armaya Junior a.k.a Ardian Syam konsisten menulis novel dengan muatan akuntansi secara menarik, bukan tak mungkin akan terbit genre baru dalam dunia sastra tanah air, yaitu genre SASTRA AKUNTANSI !....:))


@h_tanzil


ReviewReviewOpik Sook Cool Nih!Mar 2, '08 11:09 AM
for everyone